ZAKAT FITRAH

zakat (2)

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim sebelum  salat ‘idul fitri dengan kadar yang sudah telah ditentukan. –Kadar ukurannya diatur berdasarkan  makanan pokok di masing-masing tempat-. Hal ini berlandaskan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA:

))أنّ رسول الله صلّى الله عليه سلّم فرض زكاة الفطر  من رمضان على الناس صاعاً من تمر أو صاعاً من شعير على كل حرٍّ أو عبدٍ ذكر أو أنثى من المسلمين <أخرجه البخاري و مسلم>((

“Bahwasanya Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadan satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandumkepada setiap umat Islam baik hamba sahaya, maupun merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa.” (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

Dan seseorang yang mempunyai kewajiban menanggung orang lain juga harusmengeluarkan zakat orang yang menjadi tanggungannya.

Hukumnya

Syarat wajib zakat fitrah adalah mampu atau memiliki kemampuan. Sedangkan bagi yang tidak mampu, yaitu bagi yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya pada malam ied dan esok paginya maka tidak diwajibkan atasnya membayar zakat fitrah.

Hikmah disyari’atkannya zakat fitrah

Allah mensyari’atkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi yang melakukannya dari kesia-siaan dan perkataan buruk, sekaligus sebagai salah satu sarana pemberian makan kepada fakir miskin.

Waktu pengeluaran zakat fitrah

Zakat fitrah wajib ditunaikan saat masuknya waktu fajar di hari ‘ied menurut mazhab Hanafi. Sedangkan menurut mazhab Syafi’i dan  dan Hambali, wajib dikeluarkan saat matahari terbenam di akhir bulan Ramadan. Mazhab Maliki dan Hambali memperbolehkan pengeluaran zakat ini sehari sebelumnya atau dua hari sebelumnya. Diriwayatkan dari Hasan bahwasanya tidak masalah bagi seseorang jika mendahulukan zakat fitrah sehari sebelum ‘ied atau dua hari sebelumnya.

Tidak ada larangan secara syar’i mengeluarkan zakat fitrah sejak awal masuknya bulan Ramadan sebagaimana pendapat mazhab Syafi’i. Karena zakat fitrah dihukumi wajib karena dua hal: puasa Ramadan dan idul fitri. Tidak masalah jika mendahulukan salah satu dari keduanya dalam mengeluarkan zakat fitrah.

Adapun batas waktu pengeluaran zakat fitrah menurut mazhab syafi’i adalah sampai terbenamnya matahari di hari ‘ied. Siapapun yang belum mengeluarkan zakat fitrah pada hari itu, maka ia wajib menggantinya.

Objek Zakat fitrah

Zakat fitrah dikeluarkan untuk faqir-miskin dan sisanya adalah delapan lapisan golongan yang telah disebutkan Allah dalam Al-Qur’an.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

“Sesungguhnya zakat itu diperuntukkan/disalurkan untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya untuk memeluk Islam(mualaf), hamba sahaya, orang yang berhutang, seseorang yang berada di jalan Allah dan orang yang sedang di dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[At-Taubah 60.]

 

Diperbolehkan juga bagi seseorang yang ingin memberikan zakat fitrahnya sendiri kepada satu orang, sebagaimana diperbolehkannya membagikan zakat fitrah itu kepada orang banyak. Lebih baiknya adalah dengan menimbang mana yang paling bisa dipenuhi kebutuhannya itulah yang lebih utama.

 

Kadar pengeluarannya

Zakat fitrah kadarnya adalah 1 sho’ dari bahan makanan pokok suatu negeri seperti beras atau gandum. Setiap orang wajib membayar zakat fitrah 1 sho’ yaitu berkisar 2,04 kg gandum. Bagi yang ingin melebihkan pengeluarannya dari kadar ini, hal itu diperbolehkan. Dan kelebihan itu akan dianggap sebagai sedekah yang insyaAllah akan diganti oleh Allah.

 

Hukum membayarnya dengan uang tunai

Mengeluarkan zakat fitrah pada dasarnya adalah dengan bahan makanan. Berdasarkan nas dari hadis Nabi dan juga pendapat mazhab-mazhab yang ada. Adapun mengeluarkan zakat fitrah dengan alat pembayaran adalah sah-sah saja. Ini sesuai dengan pendapat ulama’-ulama’ bermazhab Hanafi, kelompok tabi’in, riwayat Imam Ahmad. Bahkan Imam Romli, salah satu ulama besar Mazhab Syafi’i berfatwa, boleh mengikuti pendapat Imam Hanafi, mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk dirham bagi yang membutuhkannya. Karena tujuan dari zakat itu sendiri adalah untuk mencukupi kebutuhan. Dan dengan uang tunai tadi, diharapkan bisa untuk membeli apa yang dibutuhkan. Dan boleh juga mengeluarkan zakat kepada orang yang mewakili shohibu zakat. Untuk kemudian diserahkan kepada yang berhak menerimanya.

 

 

Kepada siapa saja zakat firah ini diwajibkan

Zakat fitrah tidak diwajibkan kepada orang yang meninggal sebelum tenggelamnya matahari pada akhir Ramadan. Dan tidak pula diwajibkan terhadap janin yang belum lahir sebelum terbenamnya matahari di malam ‘ied, berdasarkan pendapat mayoritas ulama.Dan janin tidak terikat hukum-hukum dunia kecuali dalam hal waris dan wasiat. Dengan syarat harus terlahir dalam keadaan hidup. Tapi bagi yang ingin mengeluarkan zakat fitrah untuk janin, itu lebih baik. Sebagian ulama’, seperti Imam Ahmad, membolehkan hal itu. Diriwayatkan bahwa Usman bin Affan RA memberikan  sedekah dari yang muda sampai yang tua bahkan juga yang masih dalam kandungan ibunya. Membayarkan zakat atas orang yang tidak diwajibkan, seperti orang yang meninggal sebelum tenggelamnya matahari di akhir Ramadan dan bayi yang belum lahir di malam ‘ied, boleh saja dilakukan. Seperti halnya melakukan sedekah lainnya. []

 

 

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share