• Home »
  • Hikmah »
  • Tangisan Imam Ahmad bin Hambal di Majelis Imam Hārits al-Muhāsibī

Tangisan Imam Ahmad bin Hambal di Majelis Imam Hārits al-Muhāsibī

risalahImam Ahmad bin Hambal dikenal sebagai salah satu ulama yang keras menentang hal-hal yang dianggap bid’ah. Di zamannya, ada seorang ulama sufi yang sangat kesohor, Imam Hārits al-Muhāsibī. Dalam catatan sejumlah literatur keduanya disebut memiliki perselisihan. Namun bukan itu yang akan kita tulis di sini. Akan tetapi kita akan coba melihat betapa Imam Ahmad meskipun berselisih dengan ulama lain, beliau tidak mengingkari kebenaran yang ada pada ulama tersebut.

Imam al-Khatīb al-Bagdādī dalam tariknya, dan Imam Ibn al-Jauzī dalam Manāqib Imam Ahmad dan Shaid al-Khātir, meriwayatkan dengan sanad sahih, dari Ismail bin Ishak al-Sarrāj, dia berkata: “Suatu hari Ahmad bin Hambal pernah berkata kepadaku: “Aku mendengar kabar bahwa Hārits al-Muhāsibī memiliki banyak jamaah. Apakah kamu bisa mengundangnya ke rumahmu, dan menyediakan untukku tempat duduk sekiranya ia tidak dapat melihat keberadaanku, sehingga aku bisa mendengarkan ceramahnya?” Aku menjawab: “Baik wahai Abu Abdillah, akan saya laksanakan.” Sungguh permintaan Abu Abdillah (Imam Ahmad) ini membuatku senang. Kemudian aku pergi menemui Hārits al-Muhāsibī dan memintanya untuk datang ke rumahku pada malam itu juga. Aku memintanya agar mengajak jamaahnya juga. Ia berkata: “Wahai Ismail, jamaahku sangat banyak. Jangan terlalu repot menyediakan jamuan, cukup air minum dan kurma saja.” Lantas aku pun menyediakan sesuai permintaannya.

Setelah itu, aku menemui Abu Abdillah dan mengabarkan mengenai hal itu. Ia pun datang ke rumahku ba’da Magrib. Lantas ia masuk ke kamar bagian atas di rumahku dengan terus membaca wiridnya hingga selesai. Kemudian datanglah Hārits al-Muhāsibī dengan jamaahnya. Mereka langsung makan, lantas menunaikan shalat Isya’ tanpa langsung menunaikan shalat sunah ba’diyah. Jamaahnya duduk di hadapannya dengan sangat khusyuk, tak terdengar satu pun yang berbicara hingga pertengahan malam. Lantas ada seorang jamaah yang bertanya tentang suatu permasalahan. Hārits al-Muhāsibī pun akhirnya menjawabnya dengan panjang lebar, sedangkan jamaahnya diam khusyuk seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung. Diantara mereka ada yang menangis dan ada yang pingsan saat Hārits al-Muhāsibī tengah menjelaskan permasalahan yang ditanyakan.

Kemudian aku naik ke kamar atas untuk melihat keadaan Abu Abdillah, ternyata ia juga menangis tersedu dan diam tertegun. Lantas aku pun kembali ke majelis dan mereka tetap dalam kondisi yang sangat  khusyuk itu hingga waktu Subuh pun tiba. Kemudian mereka menunaikan shalat Subuh, lantas pulang ke rumah masing-masing. Aku naik dan menemui Abu Abdillah, dan keadaannya sudah berubah. Aku bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut Anda wahai Abu Abdillah?”. Dengan penuh kekaguman –ia menjawab: “Aku tidak pernah melihat kumpulan orang-orang seperti ini sebelumnya. Dan aku tidak pernah mendengar ilmu hakikat seperti yang telah disampaikan oleh lelaki ini. Berdasarkan apa yang saya dengar dan lihat kondisi mereka, maka sebaiknya kamu tidak berteman dengan mereka.” Kemudian ia berdiri dan keluar rumah.” (Tarikh Bagdad 8/214, Manāqib Imam Ahmad, hlm: 185).

Terkait pernyataan Imam Ahmad agar tidak berteman dengan Hārits al-Muhāsibī dan jamaahnnya, Imam Tājuddin al-Subki dalam Thabaqāt al-Syafiiyyah dan Imam al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzīb al-Tahdzīb, menjelaskan bahwa Imam Ahmad melarang untuk berteman dengan mereka lantaran beliau mengetahui akan maqām (kedudukan/kondisi) mereka yang sangat sempit dan tidak dapat dilalui oleh sembarang orang. Dan beliau tahu orang yang berjalan di dalamnya tidak akan benar-benar mampu memberikan haknya. (disarikan dari kitab Risālah al-Mustarsyidīn, tahkik dan komentar Abdul Fattah Abu Ghuddah). (ruwaqazhar.com)

 

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share