Syaikh Jamal: Al-Azhar Bukan Sumber Radikalisme

jamal

Ruwaqazhar, Kairo— Dekan Fakultas Dakwah Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Syaikh DR. Jamal Faruq membantah tuduhan sejumlah pihak bahwa Al-Azhar adalah sumber radikalisme. Jawaban ini terkait wacana yang digulirkan sejumlah aktivis sekuler liberal dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam wawancaranya dengan harian ahram, DR. Jamal menegaskan bahwa Al-Azhar senantiasa berpegang teguh pada syariat Islam yang murni dan sama sekali jauh dari pemikiran-pemikiran yang radikal, menyimpang atau sesat.

“Pemikiran Al-Azhar sama sekali tidak dibangun dia atas sikap yang radikal, menyimpang dan sesat. Karena risalah Al-Azhar sudah dikenal oleh semua kalangan, demikian juga peranannya dalam menjaga syariat Islam dan bahasa Arab serta penerapan dan penyebaran moderasi Islam, tidak mengafirkan kelompok lain, tidak radikal dan tidak melakukan pengerusakan. Karena keistimewaan inilah Al-Azhar diterima di seluruh dunia Islam. Sebab seandainya Al-Azhar dikatakan telah menyebarkan radikalisme, maka mengapa pelajar dari seluruh penjuru berbondong-bondong datang ke Al-Azhar?,” ungkap DR. Jamal.

Selanjutkan DR. Jamal menyebutkan sejumlah faktor terjadinya aksi-aksi radikal dan munculnya kelompok-kelompok takfiri.

“Ada banyak faktor. Secara umum, yang paling utama adalah tidak adanya keadilan sosial, merebaknya kebodohan, kemiskinan, buta huruf dan pengangguran. Sementara itu, secara khusus Al-Azhar yang dikenal moderat dan memiliki keilmuan yang kuat tidak mempunyai dukungan dana yang kuat. Sehingga, para agamawan dari kelompok-kelompok radikal yang banyak tampil ke ranah publik. Hal ini ditambah lagi dengan menurunnya kualitas keilmuan pelajar-pelajar Al-Azhar, karena banyak pengajar/dosen yang berkualitas di Al-Azhar yang justru mengajar di luar negeri. Ini bukan merupakan dampak sehari atau setahun, namun merupakan hasil akumulatif lebih dari lima puluh tahun, sehingga kita menghadapi problematika seperti saat ini.”

Solusi dari semua itu, menurut DR. Jamal, adalah dengan kembali kepada Manhaj Al-Azhar.

“Jika manhaj Al-Azhar tidak dimiliki oleh seorang pelajar, pengajar atau dosen di Al-Azhar maka ia bukan seorang azhari, meskipun jabatannya di Al-Azhar sangat tinggi. Al-Azhar bukanlah sebuah imamah atau ijazah saja. Namun, ia adalah akidah yang benar, ilmu, dan akhlak,” tegas DR. Jamal. (ruwaqazhar.com/dz)

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share