Syaikh Ismail Shadiq al-‘Adawi

Syaikh Ismail Shadiq al-‘Adawi

Setiap harinya Madhiyafah Syaikh Ismail Shadiq al-‘Adawi tak pernah sepi dari kegiatan belajar-mengajar ilmu-ilmu keislaman; tafsir, hadis, fikih, bahasa Arab dan lain-lain. Tempatnya yang terletak sangat strategis di area sekitar Al-Azhar memudahkan para pelajar untuk mendatanginya. Meski setiap harinya ramai didatangi oleh para pelajar, namun sebagian dari mereka tidak begitu mengenal beografi sosok agung yang memiliki tempat tersebut.

Beliau adalah Ismail bin Shadiq bin Hasub al-‘Adawi al-Maliki al-Khalwati, seorang ulama yang pakar di berbagai bidang keilmuan; hadis, fikih, ushul dan lainnya. Beliau lahir pada tanggal 6 Agustus 1934 di Asyuth-Mesir. Ayahnya, Syaikh Shadiq merupakan salah seorang ulama besar Al-Azhar yang juga dikenal sebagai seorang wali besar yang memiliki berbagai karamah. Nasab beliau bersambung ke Amirul Mukminin Umar bin Khathab r.a..

Pertumbuhan dan Pendidikannya

Syaikh Ismail al-‘Adawi tumbuh dan berkembang di tengah kalangan ulama yang datang silih berganti kepada orang tuanya. Orang tuanya memberikan perhatian yang lebih dalam masalah pendidikan. Sejak kecil beliau sudah didorong untuk menghafal Al-Quran dan Hadis. Setelah usai menghafalkan Al-Quran di usia yang masih sangat belia, orang tuanya memasukkannya ke madrasah Amiriyah. Kemudian beliau melanjutkan ke sekolah menegah atas di Ma’had al-Qahirah. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya di Al-Azhar jurusan Syariah Islamiyah dan berhasil lulus dengan predikat summa cumlaude.

Al-syaikh al-mushāri’ adalah salah satu julukan yang diberikan kepada Syaikh Ismail al-‘Adawi, karena beliau sukses memenangi lomba gulat di berbagai kesempatan. Gelar ini pun terus melekat pada diri beliau meski dalam makna yang lain, karena beliau terus menentang berbagai bentuk kebatilan demi istiqamah dakwah di jalan Allah SWT..

Kepribadiannya

Syaikh Ismail dikenal sebagai sosok yang sangat tegas, senantiasa berpikir, menelaah dan mengetahui berbagai perkara yang menyangkut masalah dunia dan agama. Selain itu beliau juga dikenal sebagai pribadi yang murah senyum. Beliau tidak pernah marah melainkan demi memperjuangkan kebenaran. Dikenal dengan sosok berkarakter lembut ketika bermuamalah dengan semua orang.

Beliau diangkat sebagai imam dan khatib di Masjid Al-Azhar selepas lulus dari kuliah. Namun demikian beliau menolak dan memilih untuk menjadi imam dan khatib di Masjid Imam al-Dardir r.a. setelah sebelumnya dipegang oleh orang tuanya. Kemudian beliau diangkat menjadi direktur al-Dakwah wa al-Irsyad (Dakwah dan Penyuluhan Keagamaan) di Abu Dabi. Beliau tak pernah berhenti untuk terus berdakwah demi mengajak masyarakat untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya. Semua hidupnya dihabiskan untuk berjihad dan memberikan bantuan kepada masyarakat. Setelah itu beliau diangkat menjadi imam dan khatib Masjid Al-Azhar. Selain itu beliau juga diangkat menjadi Ketua Himpunan Ulama Islam Internasional di Maroko. Selain itu, beliau juga pernah dicalonkan untuk menjabat sebagai Grand Shaikh Al-Azhar, namun beliau menolaknya.

Kezuhudan dan Ketasawufannya

Syaikh Ismail al-‘Adawi selalu menyembunyikan maqām kewalian beliau di balik ilmu, syariat dan kesederhanaan. Padahal beliau memiliki maqām yang sangat tinggi, hasil didikan dari orang tuanya sendiri dan Syaikh Abdul Lathif al-Quthuri r.a. yang merupakan sosok rabbāni dan wali besar di zamannya. Dari beliaulah Syaikh Ismail al-‘Adawi mewarisi ilmu dan maqām-nya.

Meski secara lahiriah Syaikh Ismail al-‘Adawi merupakan pegawai di Kementerian Wakaf, namun beliau tidak pernah menganggapnya demikian. Akan tetapi segala amal perbuatan beliau niatkan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah SWT.. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Beliau pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari masjid ke masjid yang lain, dan dari seminar ke seminar yang lain hanya untuk berdakwah dan memberikan bimbingan kepada masyarakat. Dakwah dengan intensitas yang begitu padat itu beliau jalani dengan penuh kesabaran selama kurang lebih selama empat puluh tahun. Beliau senantiasa memberikan perhatian terhadap masalah-masalah keumatan.

Wafatnya

Beliau menghadapi sakitnya yang sangat parah dengan penuh kesabaran dan keridaan kepada Allah SWT.. Sekembalinya dari berobat di Amerika, beliau dipanggil keharibaan-Nya ketika azan Isya berkumandang pada hari Rabu 23 Ramadan 1418 H./ 22 Januari 1998 M.. Jenazah beliau dishalatkan di Masjid Al-Azhar yang dihadiri oleh ribuan jamaah. Kemudian dikebumikan di pemakaman di area Darrasah pada siang hari Kamis esok harinya. Masyarakat Mesir bahkan dunia Islam menangis lantaran kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sosok yang tak pernah lelah dalam berjuang dan berdakwah demi kejayaan Islam dan kaum muslimin. Semoga rahmat Allah SWT. senantiasa menaungi beliau. Amin. (ruwaqazhar.com)

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share