Sejarah Ruwaq Al-Azhar

unduhan (2)

Oleh: Achmad Dzulfikar Fawzi

 

Masjid Al-Azhar adalah sebuah masjid kuno yang terletak di jantung kota Kairo, yang didirikan atas perintah Jauhar Ash-Shiqli, panglima besar daulah Fathimiyah pada masa Khalifah Al-Mu’izz li-Dinillah. Pada masa itu masjid Al-Azhar digunakan sebagai pusat penyebaran paham Syiah. Khalifah Al-Mu’izz li-Dinillah selaku jenderal tertinggi saat itu mengutus sejumlah ulama Syiah untuk menyebarkan ilmunya di masjid Al-Azhar. Banyak dibentuk halaqah (majelis) ilmu di masjid Al-Azhar  yang digunakan untuk menyebarkan paham Syiah. Awal kali dibangun, masjid ini hanya berbentuk satu bangunan yang terbuka di bagian tengahnya, dan hanya ada 3 ruwâq yang digunakan sebagai tempat untuk belajar mengajar pada saat itu. Yaitu Ruwâqu’l-Jabart, Ruwâqu’l-Atrâk, dan Ruwâqu’l-Maghâribah. Secara etimologis, ruwâq adalah sebuah tiang yang memanjang, sedangkan secara terminology ruwâq adalah sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dan tempat bermukim para jamaah di suatu masjid atau tempat tertentu.

Kehadiran ruwâq memang tidak bisa dipisahkan dengan adanya masjid Al-Azhar sebagai pusat  institusi keilmuan Islam yang telah berdiri sejak 1000 tahun silam. Pada awalnya, ruwâq adalah bagian atau ruangan dalam masjid yang masih kosong, yang terletak di sisi-sisi serambi masjid, memutari bagian tengah masjid khas Timur Tengah dan terbuka tanpa atap. Kemudian di ruangan kosong itu dibangunlah tembok pemisah antara satu ruangan dengan ruangan lainnya, dan diberi nama ruwâq, sebuah ruangan klasik arab tempo dulu, dengan ukiran-ukiran kaligrafi arab kuno, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya.

Pada era pemerintahan Dinasti Fathimiyah, masjid Al-Azhar digunakan untuk menyebarkan paham Syiah. Namun seiring runtuhnya Dinasti Fathimiyah di muka bumi ini, hilanglah penyebaran paham Syiah dari masjid Al-Azhar, dan berganti orientasi kepada paham Ahlussunnah wal Jamaah, sejak Mesir dipimpin oleh panglima tertinggi Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 567 H . Paham Sunni tersebut tetap terlestarikan di bawah bendera Al-Azhar hingga saat ini.

Masjid Al-Azhar sering digunakan sebagai tempat beristirahat dan berteduh oleh sebagian masyarakat Mesir maupun asing, dan tak jarang juga yang menggunakannya sebagai tempat menimba ilmu pada siang dan malam hari. Pada abad IX H., jumlah orang yang bermukim dalam masjid Al-Azhar mencapai nominal 750 orang (laki-laki). Mereka terdiri dari para pelajar, orang-orang miskin, dan orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya. Selain bermukim, mereka juga mendapat berbagi bantuan makanan selama tinggal dalam masjid, baik berupa makanan, minuman, maupun kebutuhan pokok lainnya. Di dalam masjid mereka mendapat tempat khusus untuk tiap kelompok dari mereka yang datang dan menetap dengan latar belakang dan adat yang berbeda, dan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya sejumlah ruwâq dalam masjid Al-Azhar, semisal ruwâq al-atrâk dari Turki, ruwâq al-jâwâh dari Jawa, ruwâq al-maghâribah dari Maghrib dan selainnya.

Di sisi lain, terdapat ruwâq yang diberi nama bukan dari latar belakang daerah atau negara, tapi berasal dari latar belakang mazhab, seperti ruwâq asy-Syâfi’iyyah, al-Mâlikiyyah, al-Hanafiyyah, dan al-Hanâbilah. Dalam bukunya, AlAzhar wa mâ Haulahu min al-Âtsâr Syaikh Abdur Rahman Zaki mengatakan pada era dinasti Fathimiyah (359-970 H.) Khalifah Al-Maimun memerintah untuk membangun sebuah ruwâq yang besar di dalam aula utama masjid, dan dinamakan sebagai ruwâq al-fâthimiyyah, dinisbatkan kepada Sayyidah Fathimah Az-Zahra` karena kecintaan mereka yang mendalam kepada Sayyidah Fathimah. Kemudian pada era Dinasti Ustmaniyah (1167-1753 H.) dibangun sebuah ruwâq yang besar yang terletak dibelakang ruwâq al-fâthimiyyah, dan diberi nama ruwâq al-utsmâniyyah, dengan arsitektur yang memiliki 3 mihrab di dalamnya dan mempunyai satu pintu yang diberi nama bâb ash-sha’âyidah sebagai jalan keluar para jamaah.

Konon, fungsi ruwâq selain digunakan sebagai tempat belajar mengajar, juga digunakan sebagai tempat membagi-bagikan sedekah dari sejumlah dermawan dan bangsawan yang bermaksud untuk memakmurkan masjid dengan memberi santunan kepada mereka. Pada abad XIX H., Syekh Abdul Hamid Nafi’ dalam kitabnya Adz-Dzail ‘alâ al-Maqrîzî, menyebutkan nama-nama ruwâq serta para santri yang menetap di dalam masjid Al-Azhar, sebagai berikut:

Ruwâq Ash-Sha’âyidah: dihuni sekitar 1000 orang dan setiap harinya mendistribusikan 1000 potong roti.

Ruwâq Asy-Syawâm: berada di sebelah barat Ruwâq Ash-Sha’âyidah. Dihuni oleh 130 orang lebih.

Ruwâq ad-Dakârinah: Disebut juga ad-Darfuriyyah, berada di bawah Ruwâq asy-Syâm.

Ruwâq  al-Jâwâh: Sebuah ruwâq kecil yang terletak di sebelah barat ruwâq asy-syawâm. Dihuni oleh orang-orang  dari kawasan Asia yang berjumlah 10 orang.

Ruwâq as-Sulaimâniyyah: Terletak di sebelah barat ruwâq al-jâwâh, yang dihuni oleh para pelajar dari Afghanistan yang berjumlah sekitar 10 orang.

RuwâqAl-Maghâribah: Terletak di sebelah barat serambi masjid, dan mempunyai pintu bagian dalam yang tidak dibuka kecuali pada waktu shalat Id. Ruwâq ini dihuni oleh para pelajar yang  jumlahnya lebih dari 100 orang.

Ruwâq as-Sinâriyyah: Terletak di sebelah barat ruwâq al-Maghâribah, dihuni sekitar 50 santri.

Ruwâq al-Arwâm: Disebut juga dengan ruwâq al-Atrâk, terletak di samping ruwâq al-maghâribah. Dihuni sekitar 50 pelajar dan setiap harinya membagikan uang sekitar 30 Qirsy untuk setiap orang. Ruwâq al-Jabarût: Terletak bersebelahan dengan ruwâq al-Atrâk dan dihuni oleh sejumlah pelajar.

Ruwâq Burtû: Terletak di bagian dalam ruwâq al-jabart, dihuni oleh 10 pelajar.

Ruwâq Al-Akrâd: Dihuni oleh 10 santri.

Ruwâq Al-Winâiyyah: Disebut juga al-Qumniyyah, dinisbatkan kepada daerah kecil di pedalaman Mesir. Dihuni oleh 10 pelajar.

Ruwâq Al-Hunûd: Terletak di atas ruwâq Al-Qumniyyah, dihuni kurang dari 10 orang.

Ruwâq al-Baghdâdiyah: Terletak di atas ruwâq  al-hunûd, dihuni kurang dari 10 pelajar dan beberapa orang miskin.

Ruwâq al-Bahâriwah: Terletak di sebelah pintu keluar masjid.

Ruwâq al-Fîmah: Terletak di sebelah kanan pintu keluar dan dihuni sekitar 100 pelajar.

Ruwâq asy-Syanwâniyyah: Terletak di sebelah timur serambi masjid, dekat tempat wudhu, dihuni sekitar 30 pelajar.

Ruwâq ar-Rayâfah: Terletak antara ruwâq asy-syanwaniyyah dan ruwâq al-Fisyniyyah. Dihuni sekitar 20 orang.

Ruwâq al-Fisyiniyyah: Terletak di sebelah timur serambi masjid, dekat halaman tengah masjid.

Ruwâq Ma’mar: Terletak di sebelah timur serambi masjid, dekat pagar, dan dihuni lebih dari 200 pelajar.

Ruwâq al-Barârah: Terletak di sebuah ruangan kecil, dihuni kurang dari 10 pelajar.

Ruwâq Shalîh: Terletak di sebelah kiri pagar masjid, dihuni kurang dari 5 orang pelajar.

Ruwâq asy-Syarqâwiyyah: Terletak di sebelah timur pagar masjid.

Dan terakhir Ruwâq al-Hanâbilah.

Metode pengajaran yang digunakan di dalam masjid Al-Azhar adalah system talaqqi, yaitu seorang syaikh (guru) duduk di tengah-tengah para murid (lazimnya di atas kursi), dan para murid duduk berdekatan mengelilinginya. Kemudian membacakan materi yang akan dibahas dan murid mencatat keterangan yang disampaikan. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa berbagai cabang ilmu telah diajarkan mulai sejak pertama kali diadakan majelis ilmu di masjid Al-Azhar, meliputi ilmu Syari’ah, disebut juga ilmu naqal, ilmu tafsir Al- Quran, ilmu Qiraat, ilmu kalam, ilmu nahwu, ilmu bahasa, ilmu sastra dan berbagai cabang ilmu lainnya yang tetap eksis diajarkan para masyayikh Al-Azhar. Dengan cara inilah mereka membina para santrinya dan mendidik dengan tulus dan ikhlas tanpa mengenal lelah, serta mewariskan cahaya keilmuan yang bersumber dari langsung dari baginda Nabi Muhammad saw. Kecintaan para guru terhadap ilmu dan kerinduan yang mendalam mereka terhadap sang pembawa risalah menjadikan menara Al-Azhar semakin bersinar, dan mengundang para santri agar bergegas mengambil kitab dan duduk bersama dalam suatu majelis, hingga berbagai halaqah dan majelis ilmu digelar di pojok ruwâq masjid. Hingga sekarang, ruwâq Masjid Al-Azhar dipenuhi dengan lentera-lentera agama, para ilmuan dan intelektual muslim terlahir menyinari dunia dengan ilmu yang mereka peroleh dari Masjid Al-Azhar.

Di sisi lain, dari keberhasilan ruwâq yang diperoleh masa dulu, kini berbagai majelis ilmiah dipusatkan hanya di sebagian ruwâq yang lokasinya cukup strategis di dalam masjid Al-Azhar, yaitu ruwâq ustmâniyyah,ruwâq fâthimiyyah, ruwâq al-maghâribah, ruwâq al-atrâk, dan ruwâq al-‘abbâsiyyah. Setiap hari di masjid Al-Azhar tidak pernah sepi dari majelis dan halaqah ilmiah yang menjadi magnet bagi para santrinya, puing-puing ruwâq yang sejak dulu berdiri tegak menjadi sandaran para penuntut ilmu, banyak melahirkan para intelektual dan cendekiawan muslim yang bertaraf internasional. Hingga saat ini, Al-Azhar tetap eksis dalam menyebarkan ilmu yang berbasis Ahlussunnah wal Jamaah. Berbagai disiplin ilmu agama disajikan di berbagai majelis ilmu masjid Al-Azhar. Tak berlebihan kiranya jika ada yang mengatakan, “Jika Ka’bah adalah kiblat ibadah, maka Al-Azhar adalah kiblat ilmu. “Berawal dari sebuah masjid legendaris tersebut, kini Al-Azhar sudah menjelma menjadi sebuah instansi Islam terbesar di era modern dengan tetap mempertahankan nilai-nilai klasiknya.[]

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share