• Home »
  • Aqidah »
  • Sambutan Penutupan Al-Allamah Syaikh Ali Gomaa pada Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah Chechnya

Sambutan Penutupan Al-Allamah Syaikh Ali Gomaa pada Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah Chechnya

syaikh aliSambutan Penutupan Al-Allamah Syaikh Ali Gomaa pada Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah Chechnya

Sungguh agama yang telah kita pelajari, yang kita warisi dari nenek moyang dan para masyayikh, yang memukau dalam dimensi spiritual, ilmiah, intelektual, dan kehidupan, yang juga kita cintai dan membuat kita mencintai Rasulullah SAW, sampai-sampai kita tidak bisa hidup melainkan melalui sunnah mulianya atas kecintaan Allah serta kecintaan umat manusia terhadapnya, yang telah menjadi teladan baik, panutan paling sempurna dan insan kāmil, semoga Allah senantiasa memberkatinya dan memberkati keluarganya, yang telah kita terima telah berbenturan dengan apa yang diadopsi oleh “an nābitah (anak kemarin sore)”. Saya sering mencari “apa perbedaan antara kita dan mereka?” Ketika belajar, kita belajar untuk mencari ridha Allah. Pertama-tama, kita pelajari alfabet semua ilmu pengetahuan. Kita mempelajarinya dengan sistem integral ilmu pengetahuan: dari sheikh (guru), dari buku, dari manhaj, dari jenjang pendidikan, dan iklim ilmiah. Kami duduk mencermati di majlis-majlis ilmu  dan tangga ilmu pengetahuan hingga Allah SWT. memberi semua karunia-Nya penjelasan tentang perbedaan antara kita sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah dengan “an nābitah yang kita ratapi dan kita sebut sebagai Neo-Khawarij.  Bukan saya yang pertama kali menyebut mereka dengan sebutan itu. Sebuah buku bagus yang ditulis oleh seorang peneliti Hussein Al Qadhi mengoleksi dari awal abad XX para ulama yang menyebut kelompok-kelompok ini dengan Neo-Khawarij. Alhamdulillah yang hanya dengan nikmat-Nya, semua amal shaleh dapat terwujud. Apa perbedaan antara kita dengan mereka? Kami melihat seperti yang telah kita pelajari adanya payung menerima kemajemukan, sementara kita melihat dalam perspektif “an nābitah, pola pikir tunggal yang melahirkan takfir. Kami melihat mereka mengikuti hawa nafsu ketika melakukan seleksi secara acak, dan bukannya dengan pendekatan ilmiah dan parameter yang akurat. Kami melihat mereka terpaku pada teks, sementara para ulama kita telah mengajarkan bahwa ada perbedaan antara teks dengan interpretasi teks, juga dengan kontekstualisasi (tathbiq) teks. Kami menemukan, mereka mengikuti imajinasi mereka dan tidak memahami realitas. Kami temukan, mereka tidak mengerti bahasa Arab,  tidak memahami konsep mashālih yang akurat. Mereka tidak memahami maqasid syariah dan tidak mengetahui konsep ma’ālāt yang muktabar.

Ketika kita menilik Ahlussunnah Waljamaah dari sisi pemahaman Asy’ari, kita temukan bahwa Asy’ari sendiri mempunyai dua pendapat. Kita temukan juga mazhab pasca Asy’ari bisa jadi mengadopsi pendapat yang manshūsh dan sebuah pendapat mukharraj. Selanjutnya takhrij memiliki mekanisme tersendiri. Kami temukan kebebasan berpikir dalam bentuk yang paling indah dalam apa yang telah kami pelajari dari para sheikh kami. Ia bukanlah kebebasan tanpa tanggungjawab, fanatisme dan seleksi yang acak. Namun ia adalah penghargaan terhadap pendapat bagi yang mengadopsinya. Ia juga pendapat yang debatable.

Kebanyakan karya Asy’ari telah hilang. Hanya sedikit pendapat murni Asy’ari yang sampai kepada kita. Mana yang lain? Kita sedang berbicara tentang umat, dan kita tidak bicara soal personal. Ketika bicara soal Bukhari,  kita benar-benar memegang teguh Bukhari, hingga membuat heran kalangan non-spesialis. Kita sampaikan, Shahih Bukhari tidak hanya ditulis oleh Bukhari saja, tetapi ia adalah kitab milik umat yang menekuninya, menghasilkan sejumlah mustakhraj, memberikan interpretasi terhadap teks-teks tersebut serta menelusuri makna-makna tersebut dll. Dengan demikian, ia kitab milik umat. Dan semua yang dikritisi dalam Bukhari (sebenarnya) terdapat dalam Al-Quran. Dengan begitu, hal tersebut merupakan langkah pertama untuk menghancurkan Al-Quran setelah kritikus penghancur tersebut berdalih pada koreksi terhadap Imam Bukhari.

Semua pendapat Asy’ari tidak lain hanyalah terjemahan akurat terhadap Al-Quran dan Sunnah. Jika konsepsi ini luput dari salah seorang dari mereka dan mengabaikannya, serta mengikuti doktrin si fulan dan fulan, ia akan tetap berada di bawah payung Ahlussunnah Waljamaah, meskipun ia telah menyalahi pandangan yang diadopsi para ulama.

Metodologi Asy’ari hidup dan memhami realitas. Hanya dengan pendekatan Asy’ari, peradaban bisa terbangun, jika ingin meringkas apa yang disampaikan di podium ini dalam beberapa hari ini. Mengenai ketidaktahuan “an nābitah”, juga karena mereka kehilangan sanad. Suatu hal yang menggelikan, ketika seseorang mencoba merekayasa sanad untuk kaum nābitah, dan setelah kasus tersebut terbongkar dan terbantahkan bahwa sanad semacam itu tidak eksis, saat ini, mereka menyembunyikannya. Sanad mengandung keberkahan. Itulah yang diajarkan oleh para masyayikh, dan berkah mengalir melalui sanad. (Dan saya masih ingat, Nasiruddin Albani pernah berbicara tentang sanad yang diambilnya dari Sheikh Raghib At Thabbakh di perpustakaannya di Aleppo, namun kemudian ia merobeknya karena ia hanyalah sandiwara). Sanad yang menjadi aliran berkah telah menjadi sandiwara? Inilah perbedaan besar antara ahlul ilm, Ahlussunnah Waljamaah, pembawa panji kebebasan berpikir yang terkontrol, yang berdasar pada Al Qur’an dan Sunnah dengan para ashābul ahwā wal bida’.

Alhamdulillah, mayoritas umat, hingga saat ini, masih memegang teguh keyakinan Ahlussunnah Waljamaah, menolak apa yang diadopsi oleh kaum nabitah, kelompok ekstrim dan Neo-Khawarij Kini. Namun kondisi jejaring sosial dalam bahaya besar, dengan godaan yang mereka lancarkan, mereka berhasil mempengaruhi opini satu generasi. Isu ini sangat serius. PR semakin menumpuk. Kita harus bekerja siang dan malam untuk mewariskan agama kita kepada anak-anak dan cucu-cucu kita, sebagaimana yang telah diajarkan oleh para masyayikh dan nenek moyang kita.

Apa yang terjadi? Apakah ini hanyalah sebuah teori? Sama sekali bukan. Sebagaimana yang kita dengar saat ini, sebagaimana yang kita dengar dalam dua hari ini,  penyimpangan ini telah mencoreng citra Islam di tengah opini global. Penyimpangan ini telah menyebabkan tertutupnya jalan Allah, bahkan jika terjadi tanpa ilmu. Terdapat perbedaan antara terbentuknya citra negatif dengan terhalangnya jalan Allah, namun keduanya telah mengakibatkan terpuruknya kepentingan umat Islam dalam harta, jiwa dan kehormatan serta negeri mereka. Terpuruknya kepentingan ini menyebabkan kegagalan dalam mengatasi (problematika) kehidupan. Poin ini kita sarikan, bahwa jenis pola pendidikan dan keyakinan ini merepresentasikan piramida terbalik.  Bagian dasarnya di atas dan ujungnya di bawah. Bagian dasarnya jauh lebih berat dari puncak, sehingga akan runtuh menimpa kepala pemiliknya. Camkan baik-baik, mereka menyerukan agama paralel. Dan agama paralel tidak ada hubungannya dengan Islam. Dengan begitu, kalian akan memahami kata-kata Rasulullah SAW, “Khawarij adalah anjing-anjing penghuni neraka”. Ketika masih kecil, saya selalu bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana bisa, sedangkan mereka adalah Muslim menjadi anjing penghuni neraka?” Ya mereka menggunakan terminologi Islam, berbicara dengan bahasa kita, tetapi agama mereka substansinya adalah agama lain bukanlah agama yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Nabi SAW. Setiap generasi baru dari mereka datang dan  mengutuk generasi sebelum dia, dan semakin bertambah ekstrim, militan, bodoh, gagal dan (haus) darah. Setiap generasi baru datang membawa pandangan yang lebih ekstrim dari moyang mereka, yang tidak mengajari mereka, namun cukup membiarkan mereka dengan pendekatan bengkok. Kesemua ini menyebabkan hilangnya stabilitas dari dunia, dan hilangnya stabilitas mengusik rasa takut. Saat ini semua orang menyimpan kekhawatiran satu sama lain, baik di dalam internal kaum Muslim atau antara muslim dengan non muslim, atau bahkan di kalangan non-muslim sendiri. Ummat manusia dikuasai rasa takut. Ahlussunnah Waljamaah sepanjang beberapa abad telah mewujudkan ketentraman bagi umat manusia. Mereka mengembalikan rasa tentram. “Yang memberikan makan bagi mereka dari kelaparan dan menciptakan untuk mereka ketenteraman”. Dengan rasa aman, keimanan akan datang. Para masyayikh kami menyebutkan kaedah aneh, kami tidak bisa memahaminya dengan benar kecuali setelah melihat kaum nābitah. Para masyayikh mengatakan kepada kita dalam pelajaran mereka: “Keamanan sebelum keimanan”. dan kami telah melihat dengan mata kepala sendiri, jika rasa aman hilang, keimanan pasti akan pergi, namun jika keamanan terwujud, terdapat kesempatan bagi seseorang untuk mendapat seruan iman dan seruan memakmurkan dunia dan menyucikan diri melalui ibadah kepada Allah. Bencana ini telah menimbulkan takfir, fragmentasi dan pada fakta, karena semua orang mengkafirkan orang di sekitarnya  sampai-sampai mengkafirkan diri sendiri.

Kita harus bekerja siang dan malam karena kita tidak memiliki dukungan materi yang mereka miliki, dan kita tidak punya waktu seperti mereka sementara mereka telah mendahului kita menggunakan jejaring sosial, suatu hak yang mengharuskan kita untuk bekerja. Ya Rabb, iftah alainā futūhal ārifīna bik. (Ahbab Maulana Syaikh Ali Jumah)

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share