Relasi Cinta dan Isim Dhamir

 

Isim dhamir adalah isim yang menunjukkan kepada mutakallim atau mukhâthab atau ghâib. Contohnya:

أنا أنت هو

Isim dhamir merupakan salah satu isim ma’rifat, bahkan ia merupakan isim ma’rifat terkuat setelah lafadz Jalâlâh (Allah).

Terkait isim dhamir ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1- Isim dhamir tidak bisa menjadi sifat (نعت) seperti dalam contoh kalimat رأيت زيدا إياه. Karena sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa isim dhamir adalah isim ma’rifat terkuat. Sehingga, ketika kita memposisikan   isim dhamir sebagai sifat, maka sejatinya kita telah melakukan hal yang tidak perlu dilakukan (memperjelas sesuatu yang sudah jelas).

2- Isim dhamir tidak bisa menjadi obyek yang disifati (منعوت) sebagaimana dalam contoh kalimat رأيته الكريم. Karena salah satu syarat dari sifat adalah ia harus lebih tinggi kedudukannya atau setidaknya sama dengan obyek yang disifati. Dan menjadikan isim dhamir sebagai obyek yang disifati (seperti contoh tersebut) berdampak tidak terealisasikannya syarat tersebut. Karena sekali lagi, isim dhamir adalah isim ma’rifat terkuat kedudukannya.

Khusus poin kedua di atas, bisa kita lihat dalam sebuah bait syair karya Najmuddin al-Qahfary al-Hanafy:

أضمرتُ في القلب هوى شادنٍ ❁ مشتغلٍ في النحو لا يُنصِف

وصفتُ ما أضمرتُ يوما له ❁ فقال لي: المُضمَر لا يُوصَف

“Kupendam dalam hatiku sebuah cinta yang membara

Bagaikan bab isytighâl yang tak adil dalam ilmu nahwu

Suatu hari pernah kujelaskan isi hatiku kepadanya

Namun ia berkata, yang terpendam tak boleh dijelaskan.”

Demikianlah karakteristik isim dhamir yang berbicara tentang aku, kamu dan dia, serta relasinya dengan cinta, dimana keduanya tidak perlu diungkapkan karena sejatinya ia sudah sangat jelas. (Fawwaz Khan)

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share