Mengenal Doktrin Pemikiran dalam Islam: Khawārij dan Wahabi

MENGENAL DOKTRIN PEMIKIRAN DALAM ISLAM:

(KHAWĀRIJ DAN WAHABI) [1]

 Oleh: Azka Fuady Abdillah

Pendahuluan

Pergumulan pemikiran dalam diri manusia adalah sebuah keniscayaan. Demikian juga dalam agama Islam, yang kemudian melahirkan perbedaan pandangan dalam memahami teks-teks sakral keagamaan (Al-Qur’ān dan Al-Hadīts) untuk diterapkan dalam kehidupan dan masa di mana doktrin-doktrin pemikiran tsb. lahir.

Khawārij dan Wahabi. Keduanya adalah bagian dari doktrin-doktrin pemikiran dalam masyarakat muslim, yang lahir dan berkembang di masa dan masyarakatnya masing-masing ketika itu. Dan doktrin-doktrin tsb. senantiasa bermetamorfosa, lalu bersenyawa, dan kemudian berkembang-biak di tengah masyarakat muslim.

Sebagai seorang pelajar muslim, sudah semestinya kita mengenal doktrin-doktrin aliran pemikiran tsb. Agar doktrin-doktrin pemikiran yang tidak sejalan dengan misi Islam yang rahmatan li-l-‘âlâmīn dan syubhat-syubhat yang terlahir darinya dapat dijawab dan ditanggulangi, sebelum mendarah-daging dalam tubuh masyarakat Islam dan melahirkan perpecahan yang berkepanjangan.

Dalam makalah ini, penulis mencoba untuk mengulas Khawārij dan Wahabi dalam 3 aspek pembahasan: (1) Sejarah kemunculan; (2) Prinsip-prinsip keyakinan; dan (3) Kelompok-kelompok di dalamnya.

1- KHAWĀRIJ [2]:

Khawārij (خوارج) bentuk jamak dari khārijy (خارجيّ). Secara harfiah berarti orang yang keluar. Sebagaimana Ibnu Manẓūr menyebutkan, bahwa (mereka disebut demikian) karena mereka telah keluar dari kumpulan manusia, atau karena mereka adalah golongan yang mempunyai pendapat menyimpang (dari mayoritas) [3]. Al-Syahristāny berpendapat, bahwa setiap orang yang memberontak kepada imam yang hak yang telah disepakati oleh jamaah adalah seorang khārijy, baik pemberontakan (pembangkangan) tsb. terjadi di masa para sahabat ra. kepada khulafā’ al-Rāsyidīn, atau di masa setelahnya kepada tabi’īn dan kepada para pemimpin di setiap masa [4].

Secara historis dan epistemologi Islam, Khawārij adalah sebutan bagi para pendukung sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. ketika terjadi konflik dengan sayyidina Mu’awiyah bin Abu Sofyan ra. pada perang Ṣiffīn, dan mereka mendukung sayyidina Ali ra. untuk menerima tahkīm (arbitrase), dan kemudian mereka keluar dari barisan tsb. karena kesepakatan yang terjadi antara kedua belah pihak tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Sejarah Kemunculan Khawārij

Embrio Khawārij terlahir dari peristiwa pembunuhan sayyidina Utsman bin ‘Afwan ra. hingga peristiwa perang Ṣiffīn, dan beberapa peristiwa yang terjadi setelahnya, yang menjadikan mereka sebagai kekuatan oposisi demonstratif tunggal bagi para pemimpin umat pada masa itu, mulai dari kekhilafahan sayyidina Ali ra., kekhilafahan Umawiyah sampai ‘Abbasiyah.

Untuk mengenal lebih dalam tentang Khawārij, ada lima peristiwa penting yang harus kita baca dan dalami dari buku-buku sejarah Islam. Peristiwa-peristiwa penting tsb. adalah:

(1) Fitnah di masa khilafah sayyidina Utsman bin Afwan ra. (34 H),

(2) Pembunuhan sayyidina Utsman bin Afwan (35 H),

(3) Perang Jamal (36 H),

(4) Perang Ṣiffīn (37 H),

(5) Peristiwa Tahkīm (37 H),

Selain aspek sosio-historis dan geo-politik di masa tsb. yang  mempengaruhi kelahiran Khawārij, aspek sosio-kultural merupakan embrio Khawārij yang berkembang, kemudian dewasa, dan melahirkan ideologi Khawārij. Yang nanti akan kita bahas dalam kisah “perdebatan sayyidina Ibnu Abbas dengan Khawārij”.

Prinsip-prinsip Keyakinan Khawārij

Pada mulanya, Khawārij tidak mempunyai prinsip-prinsip dasar dalam keyakinan dan pemikirannya, akan tetapi mereka hanya dikumpulkan oleh slogan-slogan, seperti ”Tidak ada hukum, kecuali milik Allah” (لا حكم إلا لله), mengkafirkan setiap orang yang berbeda pendapat dengan mereka, dan menghalalkan untuk membunuh dan memeranginya.

Selanjutnya, dengan periodik dan bertahap berkembang dalam tubuh Khawārij prinsip-prinsip global atas keyakinan dan pemikiran mereka, seperti imāmah, hak-hak ketaatan kepada seorang imam, dan pengkafiran atas pelaku dosa besar.

(1) Pendapat Khawārij atas imāmah:

Demikian juga pendapat golongan ini tentang imāmah. Berbeda dengan Sunni dan Syi’ah, Khawārij tidak mempunyai pandangan jelas dalam isu ini. Mereka tidak mempunyai kriteria paten yang harus dipenuhi oleh seorang imam (pemimpin), akan tetapi mereka hanya perpegang teguh kepada slogan: ”Tidak ada hukum, kecuali milik Allah” (لا حكم إلا لله) dan berkomitmen untuk memegang teguh slogan tsb.

Dan kemudian sayyidi Ali bin Abu Thalib ra. menjawab mereka dengan petuahnya yang masyhur: “Kata hak (yang digunakan) untuk alasan yang batil (batil)” [5].

Ketika kita menelaah sejarah Khawārij, kita akan menemukan bahwa dalam tubuh Khawārij sendiri terdapat beberapa pendapat tentang isu imāmah; (1) Al-Harūriyah: Tidak ada hukum, kecuali milik Allah; (2) Al-Najdāt: Masyarakat tidak membutuhkan imam (pemimpin), kecuali apabila mereka sepakat untuk memilih imam, maka hukumnya boleh (jā’iz).

Akan tetapi, sejarah berkata lain, yaitu ketika mereka memisahkan diri dari barisan sayyidina Ali ra. dan berkumpul di desa Harūrā’ [6], mereka mengangkat seorang imam sebagai imam mereka dalam salat, dan seorang imam  sebagai imam mereka dalam perang. Dan kemudian mereka mengangkat Abdullah bin Wahb Al-Râsiby sebagai imam dan khalifah [7].

(2) Pengkafiran Khawārij atas pelaku dosa besar:

Ini adalah asas pokok ideologi Khawārij. Mereka berpendapat bahwa perbuatan dosa (maksiat) menjadikan pelakunya seorang kafir yang keluar dari agama Islam. Pendapat mereka tsb. dilandaskan pada “melaksanakan perintah Allah swt. dan meninggalkan segala larangan-Nya”. Jadi, barang siapa yang meninggalkan perintah atau melaksanakan larangan, berarti ia telah kafir dan keluar dari agama Islam.

Tidak hanya sebatas itu, mereka berkeyakinan bahwa salah dalam berpendapat adalah sebuah dosa. Kemudian mereka menjadikan keyakinan ini sebagai landasan untuk keluar dan berlepas-diri (البراءة) dari siapa pun yang berbuat kesalahan – perbuatan atau pendapat -, dan kemudian mengkafirkan pelakunya dan para pengikutnya. Dan barang siapa yang selamat – menurut pandangan mereka – dari kesalahan, mereka akan mengikuti dan tunduk di bawah kepemimpinannya. Oleh karena itu, mereka tunduk kepada sayyidina Abu Bakr ra., sayyidina Umar ra., sayyidina Utsman ra. (2 tahun pertama masa kepemimpinannya), sayyidina Ali ra. (sebelum tahkīm). Bahkan, mereka mengkafirkan sayyidina Utsman ra. dan sayyidina Ali ra. di akhir masa kekhilafahannya. Dan tidak luput dari pengkafiran mereka sayyidina Thalhah ra., sayyidina Zubair ra., sayyidah ‘Aisyah ra., sayyidina Abu Musa Al-Asyʻary ra., sayyidina ‘Amru bin ‘Aṣ ra., sayyidina Muʻawiyah ra., dan seluruh pejabat Daulah ‘Umawiyah.

(3) Metode Khawārij dalam memahami Islam:

Dari kasus pengkafiran pelaku dosa besar di atas, kita dapat mengetahui, bahwa pemahaman Khawārij didasarkan kepada ẓahir nas-nas Al-Qur’an dan pemahaman harfiah atas sebuah ayat, tanpa memahami nas-nas tsb. secara utuh dan keseluruhan.

Berikut ini 2 contoh nas Al-Qur’an yang dijadikan landasan untuk mengkafirkan para sahabat ra.:

﴿…وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ﴾

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah menunaikan ibadah haji ke baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”[Qs. Ali ‘Imran: 97]

Pemahaman Khawārij atas ayat tsb.: Allah swt. dalam ayat tsb. menyifati orang yang meninggalkan ibadah haji dengan kufur, dan menginggalkan perintah haji adalah sebuah dosa. Maka, pelaku dosa adalah kafir.

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ﴾

“Hari di mana ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram, (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir setelah beriman? Karena itu, rasakanlah azab yang disebabkan kekafiranmu itu.”” [Qs. Ali ‘Imran: 106]

Pemahaman Khawārij atas ayat tsb., bahwa seorang fasik tidak boleh masuk dalam golongan orang-orang yang berwajah putih berseri, akan tetapi mereka termasuk dalam golongan yang berwajah hitam muram. Maka, mereka adalah orang-orang kafir.

Untuk mengenal prinsip-prinsip mereka dan metode menjawabnya, sayyidina Abdullah Ibnu Abbas telah menunjukkan dan mengajarkannya kepada kita, dalam perdebatannya dengan Khawārij. Berikut riwayat tentang perdebatan tsb.[8]:

روى الحاكم من رواية عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أنه قَالَ: لَمَّا خَرَجَتِ الْحَرُورِيَّةُ اجْتَمَعُوا فِي دَارٍ، وَهُمْ سِتَّةُ آلَافٍ، أَتَيْتُ عَلِيًّا، فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَبْرِدْ بِالظُّهْرِ لَعَلِّي آتِي هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ فَأُكَلِّمُهُمْ.

 قَالَ    : إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكَ.

قُلْتُ: كَلَّا.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَخَرَجْتُ إِلَيْهِمْ وَلَبِسْتُ أَحْسَنَ مَا يَكُونُ مِنْ حُلَلِ الْيَمَنِ، قَالَ أَبُو زُمَيْلٍ كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ جَمِيلًا جَهِيرًا. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَأَتَيْتُهُمْ، وَهُمْ مُجْتَمِعُونَ فِي دَارِهِمْ، قَائِلُونَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِمْ

فَقَالُوا: مَرْحَبًا بِكَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ فَمَا هَذِهِ الْحُلَّةُ؟

قَالَ: قُلْتُ: مَا تَعِيبُونَ عَلَيَّ، لَقَدْ رَأَيْتُ عَلَىَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ مَا يَكُونُ مِنَ الْحُلَلِ، وَنَزَلَتْ: ﴿قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ﴾ [الأعراف: 32]

قَالُوا: فَمَا جَاءَ بِكَ؟

قُلْتُ: أَتَيْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ صَحَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، لِأُبَلِّغُكُمْ مَا يَقُولُونَ الْمُخْبَرُونَ بِمَا يَقُولُونَ فَعَلَيْهِمْ نَزَلَ الْقُرْآنُ، وَهُمْ أَعْلَمُ بِالْوَحْيِ مِنْكُمْ، وَفِيهِمْ أُنْزِلَ، وَلَيْسَ فِيكُمْ مِنْهُمْ أَحَدٌ.

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا تُخَاصِمُوا قُرَيْشًا، فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ} [الزخرف: 58]

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: وَأَتَيْتُ قَوْمًا لَمْ أَرَ قَوْمًا قَطُّ أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنْهُمْ مُسْهِمَةٌ وجُوهُهُمْ مِنَ السَّهَرِ، كَأَنَّ أَيْدِيَهِمْ وَرُكَبَهُمْ تُثَنَّى عَلَيْهِمْ، فَمَضَى مَنْ حَضَرَ،

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَنُكَلِّمَنَّهُ وَلَنَنْظُرَنَّ مَا يَقُولُ.

قُلْتُ: أَخْبِرُونِي مَاذَا نَقَمْتُمْ عَلَى ابْنِ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَصِهْرِهِ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ؟

قَالُوا: ثَلَاثًا.

قُلْتُ: مَا هُنَّ؟

قَالُوا: أَمَّا إِحْدَاهُنَّ فَإِنَّهُ حَكَّمَ الرِّجَالَ فِي أَمْرِ اللَّهِ، وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ﴾ [الأنعام: 57] وَمَا لِلرِّجَالِ وَمَا لِلْحَكَمِ؟

فَقُلْتُ: هَذِهِ وَاحِدَةٌ.

قَالُوا: وَأَمَّا الْأُخْرَى فَإِنَّهُ قَاتَلَ، وَلَمْ يَسْبِ وَلَمْ يَغْنَمْ، فَلَئِنْ كَانَ الَّذِي قَاتَلَ كُفَّارًا لَقَدْ حَلَّ سَبْيُهُمْ وَغَنِيمَتُهُمْ، وَلَئِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ مَا حَلَّ قِتَالُهُمْ.

قُلْتُ: هَذِهِ اثْنَتَانِ، فَمَا الثَّالِثَةُ؟

قَالَ: إِنَّهُ مَحَا نَفْسَهُ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ فَهُوَ أَمِيرُ الْكَافِرِينَ.

قُلْتُ: أَعِنْدَكُمْ سِوَى هَذَا؟

قَالُوا: حَسْبُنَا هَذَا.

فَقُلْتُ لَهُمْ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَرَأْتُ عَلَيْكُمْ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَمِنْ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُرَدُّ بِهِ قَوْلُكُمْ أَتَرْضَوْنَ؟

قَالُوا: نَعَمْ.

فَقُلْتُ: أَمَّا قَوْلُكُمْ: حَكَّمَ الرِّجَالَ فِي أَمْرِ اللَّهِ فَأَنَا أَقْرَأُ عَلَيْكُمْ مَا قَدْ رَدَّ حُكْمَهُ إِلَى الرِّجَالِ فِي ثَمَنِ رُبْعِ دِرْهَمٍ فِي أَرْنَبٍ، وَنَحْوِهَا مِنَ الصَّيْدِ، فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ﴾ [المائدة: 95] إِلَى قَوْلِهِ ﴿يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ﴾ [المائدة: 95] فَنَشَدْتُكُمُ اللَّهَ أَحُكْمُ الرِّجَالِ فِي أَرْنَبٍ وَنَحْوِهَا مِنَ الصَّيْدِ أَفْضَلُ، أَمْ حُكْمُهُمْ فِي دِمَائِهِمْ وَصَلَاحِ ذَاتِ بَيْنِهِمْ؟، وَأَنْ تَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَوْ شَاءَ لَحَكَمَ وَلَمْ يُصَيِّرْ ذَلِكَ إِلَى الرِّجَالِ، وَفِي الْمَرْأَةِ وَزَوْجِهَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا﴾ [النساء: 35] فَجَعَلَ اللَّهُ حُكْمَ الرِّجَالِ سُنَّةً مَأْمُونَةً، أَخَرَجْتُ منْ هَذِهِ؟

 قَالُوا: نَعَمْ،

قَالَ: وَأَمَّا قَوْلُكُمْ: قَاتَلَ وَلَمْ يَسْبِ وَلَمْ يَغْنَمْ، أَتَسْبُونَ أُمَّكُمْ عَائِشَةَ ثُمَّ يَسْتَحِلُّونَ مِنْهَا مَا يُسْتَحَلُّ مِنْ غَيْرِهَا؟ فَلَئِنْ فَعَلْتُمْ لَقَدْ كَفَرْتُمْ وَهِيَ أُمُّكُمْ، وَلَئِنْ قُلْتُمْ: لَيْسَتْ أُمَّنَا لَقَدْ كَفَرْتُمْ فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ﴾ [الأحزاب: 6] فَأَنْتُمْ تَدْورُونَ بَيْنَ ضَلَالَتَيْنِ أَيُّهُمَا صِرْتُمْ إِلَيْهَا، صِرْتُمْ إِلَى ضَلَالَةٍ فَنَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ،

قُلْتُ: أَخَرَجْتُ مِنْ هَذِهِ؟

قَالُوا: نَعَمْ،

قَالَ: وَأَمَّا قَوْلُكُمْ مَحَا اسْمَهُ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ، فَأَنَا آتِيكُمْ بِمَنْ تَرْضَوْنَ، وَأُرِيكُمْ قَدْ سَمِعْتُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ كَاتَبَ سُهَيْلَ بْنَ عَمْرٍو وَأَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ: ” اكْتُبْ يَا عَلِيُّ: هَذَا مَا اصْطَلَحَ عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ” فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ: لَا وَاللَّهِ مَا نَعْلَمُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ لَوْ نَعْلَمُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا قَاتَلْنَاكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، اكْتُبْ يَا عَلِيُّ: هَذَا مَا اصْطَلَحَ عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ” فَوَاللَّهِ لَرَسُولُ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ عَلِيٍّ، وَمَا أَخْرَجَهُ مِنَ النُّبُوَّةِ حِينَ مَحَا نَفْسَهُ،

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ: فَرَجَعَ مِنَ الْقَوْمِ أَلْفَانِ، وَقُتِلَ سَائِرُهُمْ عَلَى ضَلَالَةٍ

«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»

Dari perdebatan di atas, sayyidina Abdullah Ibnu Abbas ra. mengajarkan kepada kita bagaimana menyikapi dan menjawab paham, isu, syubhāt, dan pemikiran nyeleneh  dalam memahami Islam; baik yang terlahir dari internal umat Islam sendiri atau dari luar. Syaikh Usama Sayyid Al-Azhary, meringkasnya dalam enam perkara [9], yaitu:

(1) Mengikuti dan memperhatikan semua syubhāt dan pemikiran nyeleneh , kemudian mengumpulkan, mengkaji, meringkas, dan mereformulasinya ke dalam inti-inti pemikiran. Dan kemudian memberikan solusi dan kritik ilmiah atas pemikiran tsb.

(2) Sebuah pertanyaan: “Kenapa sayyidina Abdullah Ibnu Abbas ra. mengenakan pakaian “mewah” dari Yaman?

Apa maksud dari tindakannya tsb.?” Tidak lain adalah untuk mengenal mindset berpikir Khawārij dari respon mereka atas pakaian tsb. Respon mereka menunjukkan kejumudan mereka dalam memahami agama Islam dan kesempitan framework berpikir mereka dalam menafsirkan nas-nas Al-Qur’an, yang kemudian mengantarkan mereka kepada pengkafiran para sahabat ra. dan selain pengikut manhaj Khawārij.

(3) Sayyidina Abdullah Ibnu Abbas ra. menunjukkan kepada mereka keontentikan manhaj dan keilmiahan konsep berpikir dalam memahami agama Islam. Yang beliau tunjukkan dalam perkataan berikut:

أَتَيْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ صَحَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، لِأُبَلِّغُكُمْ مَا يَقُولُونَ الْمُخْبَرُونَ بِمَا يَقُولُونَ فَعَلَيْهِمْ نَزَلَ الْقُرْآنُ، وَهُمْ أَعْلَمُ بِالْوَحْيِ مِنْكُمْ، وَفِيهِمْ أُنْزِلَ، وَلَيْسَ فِيكُمْ مِنْهُمْ أَحَدٌ

 (4) Sayyidina Abdullah Ibnu Abbas ra. mendebat Khawārij secara langsung, tanpa harus bertanya dan meminta pendapat terlebih dahulu. Beliau mengajarkan untuk langsung mengenal Khawārij secara langsung, baik dari mindset dan pemikiran mereka, ataupun dari tindakan dan perbuatan mereka.

(5) Penetapan dan pembatasan sumber permasalahan dan jawabannya. Sayyidina Abdullah Ibnu Abbas ra. menanyakan kepada Khawārij tentang alasan mereka keluar dan menentang Sayyidina Ali ra.

(6) Sayyidina Abdullah Ibnu Abbas ra. menunjukkan kepada kita, bahwa pemikiran Khawārij bertumpu pada sebuah nas atau beberapa nas saja, tanpa berusaha untuk mengumpulkan nas-nas Al-Qur’an dan Hadis untuk memahami sebuah permasalahan.

Demikianlah enam hal yang berhubungan dengan manhaj dan metode yang diajarkan oleh sayyidina Ibnu Abbas ra. dalam menjawab pemikiran Khawārij. Dalam beberapa riwayat mengatakan, bahwa 2000 pengikut Khawārij bertaubat setelah perdebatan tsb.

Golongan-golongan dalam Tubuh Khawārij:

(1) Khawārij Perdana (الحَرُورِيّة):

Mereka adalah golongan yang keluar dari barisan sayyidina Ali ra. ketika beliau menerima tahkīm. Di antara mereka adalah Abdullah bin Kawā’, ‘Attāb bin Al-A’wār, Abdullah bin Wahb al-Rāsiby, ‘Urwah bin Jarīr, Yazīd bin Abu ‘Āṣim al-Muhāriby, dan Ḥarqūṣ bin Zuhair.

(2) Al-Azāriqah (الأزارقة):

Yaitu sebutan bagi para pengikut Nāfi’ bin al-Azraq al-Hanafy (Abu Rāsyid). Para pengikut Khawārij berkumpul dan mengangkatnya sebagai amīr al-Mu’minīn, yang kemudian diikuti oleh Khawārij Oman dan Yamāmah, sehingga pengikutnya lebih dari 20.000 orang.

(3) Al-Najdāt (النجدات):

Mereka adalah pengikut Najdah bin ‘Āmir al-Hanafy. Najdah dan pasukannya keluar dari Yamāmah untuk berbaiat kepada Nāfi’ bin al-Azraq. Akan tetapi, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Abu Fudaik, ‘Athiyah bin al-Aswad al-Hanafy, dan sekumpulan orang yang keluar dari barisan Nāfi’ bin al-Azraq, karena Nāfi’ bin al-Azraq mengkafirkan orang-orang yang tidak ikut berperang dan menghalalkan darah anak-anak dan isteri-isteri orang yang berbeda pandangan dengannya.

Dan akhirnya mereka membaiat Najdah bin ‘Āmir al-Hanafy sebagai pemimpin, dan menyebutnya sebagai amīr al-Mu’minīn. Kemudian mereka dikenal dengan para pengikut Najdah (Al-Najdāt).

(4) Al-Baihasiyah (البيهاسية):

Mereka adalah pengikut Abu Baihas al-Haiṣam bin Jābir. Ia berpendapat, bahwa seseorang tidak dikatakan muslim sebelum mengakui telah mengenal Allah swt., para rasul-Nya, risalah rasulullah saw., dan wilayah para wali-Nya, serta berlepas diri dari musuh-musuh Allah swt.

Dan kemudian, golongan ini terpecah lagi menjadi beberapa golongan kecil, seperti Ashāb al-Tafsīr, Ashāb al-Su’āl, dst.

(5) Al-‘Ajāridah (العجاردة):

Adalah pengikut ‘Abdul Karīm bin ‘Ajrad. Sebagian ulama [10] berpendapat, bahwa mereka adalah pecahan dari pengikut Najdah bin ‘Āmir al-Hanafy (Al-Najdāt), dan sebagian lainnya [11] berpendapat mereka adalah pecahan dari pengikut Al-Baihasiyah. Perpecahan tsb. karena perbedaan pendapat yang terjadi di dalamnya. Pecahan ini berpendapat, bahwa; (1) mereka harus berlepas diri dari anak kecil yang belum baligh, dan apabila telah baligh mereka harus mengajaknya berbaiat kepada Islam yang benar; (2) Anak-anak orang musyrik kekal di neraka bersama orang tua mereka; (3) Hijrah adalah fadhīlah bukan kewajiban; (4) dll.

(6) Al-Tsa’ālibah (الثعالبة):

Adalah pengikut Tsa’labah bin Musykān. Pengikutnya mengangkatnya sebagai imam setelah terjadi perselisihan pendapat antara Tsa’labah bin Musykān dan ‘Abdul Karīm bin ‘Ajrad tentang kedudukan anak kecil; apakah mereka di bawah kepemimpinan Khawārij atau tidak? Tsa’labah melihat bahwa mereka berada di bawah naungan Khawārij selama tidak tampak pengingkaran dari mereka. Perbedaan inilah yang melahirkan perpecahaan antara pengikut mereka berdua.

(7) Al-Ṣufriyah (الصفرية):

Adalah pengikut Ziyād bin al-Aṣfar. Sebagian besar pendapat Al-Ṣufriyah sama dengan Al-Azāriqah, hanya sedikit permasalahan yang berbeda, seperti; (1) tidak mengkafirkan orang yang tidak ikut berperang selama berkeyakinan seperti mereka; (2) tidak meniadakan hukum rajam; (3) taqiyyah boleh dalam perkataan tidak dalam perbuatan; (4) dll.

(8) Al-Ibaḍiyah (الإباضية):

Adalah pengikut ‘Abdullāh bin Ibāḍ al-Tamīmy.

Para pengikut Ibaḍiyah sendiri tidak menganggap golongan mereka bagian dari Khawārij, karena terdapat perbedaan pendapat dalam masalah-masalah dasar mazhab, akan tetapi para sejarawan Islam memasukkannya sebagai bagian dari Khawārij.

Setelah perdebatan panjang antara ‘Abdullāh bin Zubair ra. dan Khawārij di Makkah (th. 64 H.), terjadi perdebatan panjang dalam tubuh Khawārij, yang kemudian mendorong mereka untuk mengamandemen prinsip-prinsip pokok mazhab mereka. Sehingga Khawārij terbagi menjadi 2 golongan; (1) Khawārij Ekstrimis, yang mengajak untuk jihad dan perang, dan; (2) Khawārij Moderat,  yang bersifat lebih toleran kepada mereka yang berbeda pendapat dengannya.

Khawārij Moderat terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu: (1) ‘Abdullāh bin Ibāḍ al-Tamīmy dan pengikutnya, dan (2) Ziyad bin al-Aṣfar dan pengikutnya.

‘Abdullah bin Ibaḍ melihat, bahwa mereka yang berbeda pendapat dengan Khawārij tidak keluar dari Islam, akan tetapi mereka kufur atas nikmat Allah swt. Oleh karena itu, mereka tidak boleh diperangi dan tidak dibunuh, serta seluruh wilayah kekuasaan umat Islam bukanlah dār al-harb. Dan mereka juga berpendapat, bahwa pelaku dosa besar adalah seorang yang mengesakan Allah (muwahhid), akan tetapi bukan seorang mukmin. Dan beberapa pendapat lain yang tidak memungkin untuk disebutkan secara detail di sini.

Pada awal abad ke-2 Hijriah, Kota Baṣrah menjadi pusat penyebaran Ibaḍiyah, yang kemudian menyebar ke kawasan Oman, Hadramaut, dan Yaman. Dan sampai detik ini, Ibaḍiyah menjadi mazhab resmi negara Oman.

2- WAHABI:

Wahabi adalah sebutan yang disematkan untuk dakwah tajdid dan pembaharuan yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul wahhāb bin Sulaimān al-Tamimy yang bermula dari kawasan Najd. Membahas tentang Wahabi tidak bisa terlepas dari doktrin-doktrin salafy, yang akan kembali kepada sejarah tentang manhaj salaf dalam memahami ayat-ayat tentang sifat di abad ke-4 Hijriah (pengikut Ahmad bin Hanbal), dan kemudian didengungkan kembali oleh Ibnu Taimiyah di abad ke-7 Hijriah. Dan setelah berabad-abad lamanya doktrin pemikiran ini termakan waktu, Muhammad bin Abdul Wahhāb kembali mendengungkan dan menyebarkannya di abad ke-12 Hijriah.

Shaikh Muhammad Abu Zahrah mengatakan [12]: “Penggagas gerakan Wahaby adalah Muhammad bin Abdul Wahhāb (th. 1787 M). Ia telah mempelajari karya-karya Ibnu Taimiyah, hingga terpatri dalam pandangannya, dan kemudian ia mendalaminya. Bahkan, ia mengeluarkannya dari sebuah sudut pandang (pemikiran) menjadi pandangan yang harus diterapkan. Dan sesungguhnya, mereka (Wahaby) dalam doktrin akidah tidak lebih dari doktrin akidah yang dibawa oleh Ibnu Taimiyah, akan tetapi mereka lebih keras dari pendahulunya (Ibnu Taimiyah), dengan menerapkannya dalam amal-perbuatan…”

Demikian gambaran umum tentang Wahabi.

Sejarah Kemunculan Wahabi [13]

Muhammad bin Abdul Wahhāb lahir pada tahun 1115 H (1703 M) di kota al-‘Ainiyah – Najd. Ia terlahir dari keluarga yang berilmu, shaikh Sulaiman (kakeknya) adalah seorang qāḍy di kota al-‘Ainiyah.

Terlahir di Najd, kota di mana mayoritas penduduknya terlalu berlebih-lebihan dalam mengkultuskan ulama, bahkan dalam masalah ngalap berkah dari makam, kuburan, dan bahkan pepohonan dan batu-batu, hingga masalah tawasul dengan para nabi, wali, dan para orang salih yang telah wafat. Aspek sosio-kultural masyarakat inilah yang memenuhi pikiran Muhammad bin Abdul Wahhāb. Sampai akhirnya ia menemukan sandaran dalam pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah dalam karya-karyanya, hingga ia merasa bahwa iklim sosio-kultural yang dirasakannya menemukan jawaban dan solusi dalam karya-karya Ibnu Taimiyah.

Dalam menyebarkan keyakinannya, Muhammad bin Wahhāb menghadapi banyak rintangan dan hambatan dari mayoritas masyarakatnya ketika itu. Hingga ia pindah ke kawasan al-Dar’iyah dan bertemu dengan pangeran al-Dar’iyah Muhammad bin Sa’ud. Dan terjadilah baiat antara keduanya untuk saling membantu dan menguatkan, yaitu pada tahun 1158 H/1744 H. Hingga akhirnya terlahir kerajaan Saudi Arabia yang dipimpin oleh keluarga Sa’ud dan ber-manhaj-kan Wahabi. Demikianlah sejarah koalisi antara kekuasaan Muhammad bin Sa’ud dengan manhaj Muhammad bin Abdul Wahhāb.

Prinsip-prinsip Keyakinan Wahabi

Sebagaimana penjelasan syaikh Muhammad Abu Zahrah, bahwa dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhāb tidak lebih dari sebuah penerapan atas pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah, meskipun dalam beberapa hal terdapat perbedaan. Berikut beberapa prinsip-prinsip yang dakwah Wahabi:

(1) Pembagian Tauhid menjadi tiga: (1) Ulūhiyah; (2) Rubūbiyah; (3) Asmā’ wa Ṣifāt [14].

(2) Pengingkaran atas tawasul dan istighāsah kepada para nabi as., para wali, dan orang salih.

Ini adalah pengaruh keadaan sosio-kultural masyarakat Najd kepada Muhammad bin Abdul Wahhāb. Sehingga ia menilai bahwa hal-hal di atas bertentangan dengan nilai-nilai tauhid dalam mengesakan Allah swt. [15]

(3) Pengingkaran atas tasawuf dan filsafat secara umum tanpa terkecuali.

Muhammad bin Abdul Wahhāb dan para pengikutnya mengingkari tasawuf secara umum, tanpa membedakan antara tasawuf sunny yang diakui oleh Ahlussunnah wal jama’ah, dan tasawuf falsafy yang meyakini paham hulūl, al-Ittihād, dan wihdat al-Wujūd.

(4) Pengingkaran atas metode takwil dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

(5) Memperluas cakupan makna bid’ah, yaitu seluruh bid’ah adalah sesat, dan mengingkari adanya bid’ah hasanah.[16]

Penutup

Demikian sekilas tentang sejarah dan doktrin-doktrin pemikiran Khawārij dan Wahabi. Slogan-slogan “kembali kepada hukum Allah swt.” banyak kita temukan dalam era modern sekarang. Dan apabila kita cermati lebih dalam lagi, ternyata slogan tsb. telah didengungkan oleh Khawārij di abad pertama hijriah. Demikian juga tawaran-tawaran tajdid dan pembaharuan dalam Islam, banyak kita temukan di masa kita sekarang.

Demikianlah, bahwa doktrin-doktrin pemikiran yang pernah terjadi dalam tubuh umat Islam, telah kembali didengungkan oleh umat Islam sekarang tanpa mereka sadari bahwa slogan dan tawaran tajdid dan pembaharuan tsb. telah memecah persatuan umat di masa silam.

Mampukah umat Islam – pada umumnya – dan para ulama – pada khususnya – merevisi dan mereformulasi pemahaman dan persoalan Islam kontemporer sembari mengikatnya dengan tradisi pandangan para sahabat dan salaf-salih?! Sebagaimana sayyidina Abdullah Ibnu Abbas ra. mengembalikan 2000 pengikut Khawārij kepada pemahaman Islam yang benar, yaitu agama rahmat bagi alam semesta.

Wa Allahu wa Rasuluhu a’lam.[]

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم…

والحمد لله رب العالمين

[1] Makalah disampaikan pada “Seminar Sehari: Al-Azhar dan Moderasi Islam”, kerjasama Majalah Hirā – Turki dan Ruwaq Azhar Center, 25 Maret 2015.

[2] Disarikan dari tulisan Prof. Dr. Abdul Fattah Ahmad al-Fawy, M.A [الحرورية (الخوارج الأولى)] dan tulisan Prof. Dr. Muh. ‘īsā al-Harīry, M.A. [الخوارج], Mausū’at al-Firaq wa al-Madhāhib, dan Tārīkh al-Madhāhib al-IslāmiyahMuhammad Abu Zahrah, dengan sedikit penambahan.

[3] Ibnu Manẓūr, Lisān al-‘Arab, kata (خرج), vol. 2, hal. 1126.

[4] Al-Syahristāny, al-Milal wa Al-Nihal, hal. 115.

[5] Sāhih Muslim, Kitab Zakat, Bab. Hasutan untuk membunuh khawārij.

[6] Nama sebuah desa di Kūfah – Irak.

[7] Baca Târīkh Al-Thabary, Bab. Apa Yang dikatakan tentang Berita Kaum Khawarij, vol. 5, hal. 74.

[8] Riwayat Al-Hākim dalam Al-Mustadrak, kitab Qitāl Ahl-l-Bagy wa Huwa Ākhir-l-Jihād.

Baca juga: (1) Dhi’auddin Al-Maqdisy, Al-Ahādits Al-MukhtārahBab. Nuzūlu-l-Wahyi wa Hum a’lam bi ta’wīlih; (2) Abdurrazzāq, Al-MuṣannafBab. Mā Jā’a fi-l-Harūriyah; (3) Al-Aṣfahāny, Hilliyatu-l-Auliyā’Bab. Abdullah Ibn Abbas wa fahmu-l-laqni-l-Muallim; (4) An-Nasā’ī, As-Sunan Al-KubrāBab. Dzikru Munāzarah Abdillah Ibn Abbas Al-Harūriyah; (5) Al-Baihaqy, As-Sunan Al-KubrāBab. Lā Yabda’ Al-Khawārij bi-l-Qitāl; (6) Ath-Thabrāny, Al-Mu’jam Al-KabīrBab. Min Manāqib Abdillah Ibn Abbas wa Akhbāruh; (7) Ibnu Abdi-l-Bār, Jāmi’ Bayāni-l-‘Ilm wa FadlihBab. Ityānu-l-Munāzarah wa-l-Mujādalah wa Iqāmatu-l-Hujjah.

[9]  Diringkas dari Al-Haqq Al-Mubīn fī Radd man Talā’aba bi-d-Dīn, Usama Sayyid Al-Azhary, hal. 41-48.

[10] Al-Asy’ary, Maqālāt al-Islāmiyyin.

[11] Al-Syahristāny, al-Milal wa al-Nihal.

[12] Tārīkh al-Madhāhib al-Islāmiyah, hal. 212.

[13] Untuk mengenal sejarahnya, baca: Rauḍat al-Afkār wa al-Afhām li murtād hāl al-Imām (karya: Husein bin Ghanām), Ti’dād al-Ghazawāt dhawy al-Islām (karya: Husein bin Ghanām), dan ‘Unwān al-Majd ‘an Tārīkh al-Najd (karya: Utsman bin Abdullah bin Basyīr).

Husein bin Ghanām adalah sejarawan yang hidup semasa dengan Muhammad bin Abdul Wahhāb dan salah satu dari muridnya. Bahkan, ia menuliskan sejarah tsb. atas perintah dari sang guru.

Dan Utsman bin Abdullah adalah sejarawan yang lahir setelah Muhammad bin Abdul Wahhāb meninggal.

[14] Objek pembahasan ini sangat panjang, untuk keterangan lebih lanjut lihat karya-karya Ibnu Taimiyah, kemudian bandingkan dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah (Al-‘Asya’irah – Al-Māturīdiyah).

[15] Objek pembahasan ini sangat panjang. Akan tetapi, stressing point-nya adalah apakah masalah tawasul dan istighātsah masuk ke dalam ranah Akidah atau ranah Fikih?

[16] Baca: “Al-Bid’ah fī Dhau’i Al-Qur’an wa As-Sunnah”, Dr. ‘Imād Sayyid Syarbīny.

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share