• Home »
  • Fikih »
  • Menelisik Hukum Perayaan Maulid Nabi SAW., Bid’ahkah? (2-habis)

Menelisik Hukum Perayaan Maulid Nabi SAW., Bid’ahkah? (2-habis)

maulid

Analisa Sederhana Mengenai Hukum Maulid 

Maulid Nabi adalah Bid’ah

Sebagaian kelompok dalam Islam berpendapat, bahwa perayaan Maulid Nabi yang sering diadakan pada bulan Rabi’ul Awal itu adalah bid’ah dan merupakan kemungkaran yang harus diperangi. Hal ini dikarenakan Nabi SAW. melarang kita untuk membuat perkara yang baru dalam agama ini. Nabi  SAW. bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a.:

من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد. رواه البخارى ومسلم.

 “Barangsiapa yang membuat hal baru dalam perkara (agama) kami, yang bukan termasuk darinya, maka hal itu tertolak”. (HR. Bukhari Muslim)

Dan juga mereka berargumen dengan hadis Nabi SAW.:

وشر الأمور محدثاتها, وكل محدثة بدعة, وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار. رواه النسائى.

 “Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Al-Nasâi)

 Setelah mengetahui dalil-dalil yang dikemukakan oleh kelompok yang menolak dan membid’ahkan Perayaan Maulid Nabi. Lantas bagaimana sebenarnya hukumnya? Sebelum kepada keputusan hukum, mari kita ketahui terlebih dahulu pengertian bid’ah dalam Islam.

Pengertian Bid’ah dalam Islam

Permasalahan Maulid Nabi ini tidak akan lepas dari perbincangan dan perdebatan panjang mengenai pengertian bid’ah dan penerapannya. Karena kata “bid’ah” adalah senjata paling ampuh sebagian kelompok Islam untuk mematikan langkah lawan. Kata “bid’ah” memang bukan kata yang asing dalam agama Islam, karena kata tersebut ada di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.. Akan tetapi permasalahan timbul ketika terjadi multi tafsir dalam memahami hadis Nabi SAW. sebagaimana yang sudah dinukil sebelumnya. Apakah sabda Nabi SAW. tersebut dipahami secara umum bahwa setiap perkara yang baru dalam agama adalah terlarang, ataukah bid’ah yang dimaksud di dalam hadis tersebut masih tergolong ‘âm (umum) dan terdapat mukhassis (pengkhusus) nya, sehingga tidak semua hal yang baru dapat dikatakan bid’ah yang sesat?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentunya kita harus merujuk kepada pemahaman para aimmah salaf yang lebih tahu detail tentang pemahaman teks wahyu.

Sebenarnya jauh hari Rasulullah SAW. sudah melakukan pembagian, bahwa hal yang baru itu terbagi menjadi dua; baik dan buruk. Hal ini sebagaimana sabda beliau:

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ, ومن سنة سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شئ . (رواه مسلم و أحمد).

 “Barangsiapa memulai mengerjakan hal baru yang baik, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya setelahnya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai mengerjakan hal baru yang jelek, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya setelahnya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Dalam hadis di atas kiranya sudah jelas, bahwa Rasulullah SAW. sendirilah yang justru membagi hal yang baru itu menjadi dua; baik dan buruk. Karena kata “sunnah” dalam pengertian secara bahasa adalah sebuah sikap (jalan); baik maupun jelek.[1] Adapun secara syariat “sunnah” berarti setiap sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW., berupa perkataan, perbuatan dan keputusan. Dalam hadis tersebut tentunya yang dimaksud sunnah adalah secara bahasa. Karena kalau diartikan secara syariat, maka secara tidak langsung kita mengatakan bahwa terdapat sunnah Nabi SAW. yang buruk, dan itu mustahil. Karena Nabi SAW. adalah utusan Allah SWT. yang ma’shum (terjaga dari dosa kecil dan besar). Oleh sebab itu sangat tidak tepat pemahaman sebagian orang yang mengatakan bahwa hadis tersebut adalah untuk menyuruh kepada ihyaussunnah (menghidupkan sunnah) Nabi SAW.. Karena kalau kita mengatakan “sanna sunnatan hasanatan” dalam hadis itu berarti menghidupkan sunnah Nabi SAW. mungkin kita dapat menerimanya, sebab memang sunnah (dengan makna syariat) itu semua baik. Akan tetapi beranikah kita mengartikan “sanna sunnatan sayyiatan” dalam hadis itu berarti menghidupkan sunnah Nabi yang buruk?. Ma’adzallâh. Oleh sebab itu hadis inilah yang menjadi landasan kuat bahwa pembagian hal yang baru dalam agama itu digolongkan menjadi dua; baik dan jelek.

Pemahaman yang Salah Mengenai Perayaan Maulid dan Sanggahannya

1- Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak pernah dilakukan oleh generasi salaf, dan sesuatu yang tidak pernah di lakukan oleh generasi salaf maka hukumnya adalah bid’ah sayyi’ah yang wajib diingkari.

Jawaban: Tidak semua hal yang tidak dilakukan oleh generasi salaf adalah bid’ah sayyi’ah, karena seandainya memang demikian maka kita tidak boleh mendirikan pesantren, sekolah dan rumah sakit.

2- Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. pada bulan Rabiul Awwal itu sama dengan bulan wafatnya Rasulullah SAW.. Lalu kenapa umat Islam merayakan kelahirannya dan bukan mengenang kewafatannya?

Jawaban: Terkait hal ini Imam Suyuthy berkata: “Kelahiran Rasulullah SAW. adalah nikmat terbesar, sementara kewafatan beliau adalah musibah terbesar. dan syariat Islam menganjurkan untuk mensyukuri nikmat dan bersabar ketika tertimpa musibah. Syariat Islam pun menganjurkan untuk berakikah pada saat kelahiran, namun tidak menganjurkannya pada saat meninggal dunia.” Berangkat dari hal ini, bisa dikatakan bahwa syariat Islam menganjurkan untuk berbahagia di bulan Rabiul Awwal demi menampakkan kebahagiaan atas kelahiran Rasulullah SAW..

3- Di dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. seringkali ada pujian-pujian yang seakan-akan menuhankan beliau, padahal beliau pernah bersabda: “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (Isa) putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, ‘Abdullah wa Rasuluh (hamba Allah dan Rasul-Nya).” (HR. Bukhari Muslim)

Jawaban: Rasulullah SAW. melarang untuk dipuji secara berlebihan seperti halnya kaum Nasrani memuji Nabi Isa AS. secara berlebian. Namun demikian, kita perlu cermat dalam memahami hal ini, karena kaum Nasrani memuji Nabi Isa sebagai Tuhan, sementara tidak satupun dari kaum muslimin yang menjadikan Nabi Muhammad SAW. sebagai Tuhan.

 Komentar Para Ulama tentang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

1- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah r.h. berkata: “Maka mengagungkan hari kelahiran Nabi dan menjadikannya suatu perayaan; terkadang dilakukan oleh sebagian kelompok dan mereka mendapat pahala yang agung, karena di dalamnya terdapat tujuan yang baik serta pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW..”[2]

2- Imam Ibnu al-Jauzi r.h. berkata: “Sesungguhnya merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. adalah sebuah kesejahteraan di tahun itu dan kabar gembira yang disegerakan untuk tercapainya cita-cita dan tujuan.[3]

3- Imam Ibnu Hajar al-Haitsami r.h. berkata: “Kesimpulannya adalah bahwa bid’ah hasanah menurut para ulama, mereka sepakat atas kebolehannya, dan amalan Maulid serta berkumpulnya manusia saat Maulid dinilai sebagai amalan bid’ah hasanah.”[4]

Kesimpulan Hukum

Dari pembahasan singkat di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa perayaan Maulid Nabi SAW. tidak dapat dikatakan bid’ah, atau kalau dikatakan bid’ah, maka itu adalah bid’ah hasanah (baik). Hal ini dengan beberapa alasan sebagaimana berikut:

  1. Tidak ada larangan secara jelas dari Al-Quran dan Sunnah atas perayaan Maulid Nabi SAW..
  2. Al-Tarku (salaf tidak melakukan) dalam sebuah perbuatan tidak dapat dijadikan dalil. Karena tidak melakukan bukan berarti melarang sebagaimana dalam masalah makan dhabb (biawak).
  3. Rasulullah SAW. juga merayakan kelahirannya sendiri setiap hari Senin dengan cara berpuasa.
  4. Tidak ada hal yang terlarang dalam agenda acara perayaan Maulid Nabi SAW.. Karena justru isinya adalah hal-hal yang masyru’ seperti membaca Al-Quran, Sirah Nabi SAW., ceramah agama, memberi makan, dan menjaling silaturahim.
  5. Maulid Nabi SAW. tetap bisa dikatakan mempunyai landasan syariat, paling tidak maslahah mursalah, jika memang landasan Al-Quran dan Sunnah belum cukup.
  6. Rasulullah SAW. mempunyai tradisi untuk mengenang dan memperingati hari-hari umat terdahulu, sebagaiman pada puasa hari ‘Asyura’.
  7. Dalam perayaan Maulid juga terdapat sebuah syiar Islam.

Penutup

Kesimpulan dari penjelasan singkat di atas bahwa hukum Maulid adalah mubah, bahkan sunah sebagaimana dalil-dalil yang telah dikemukakan oleh para ulama di atas. Adapun pendapat sebagian kelompok yang mengatakan bahwa perayaaan Maulid Nabi Muhammad SAW. adalah bid’ah sayyi’ah, penulis menganggap mereka mendeskripsikan perayaan Maulid secara keliru, sehingga jauh dari hakikat Maulid itu sendiri.

Dengan ini penulis berharap dan memohon kepada Allah SWT. kelak diakhirat Dia mengumpulkan kita semua bersama Rasulullah SAW. dan mendapatkan syafaat beliau..

يا أكرم الخلق ما لي من ألوذ به ❁ سواك عند حلول الحادث العمم

Wallâhu Ta’ala A’lam wa ‘Ilmuhu Atamma wa Ahkam.

[1] Al-Mu’jam al-Wasith.

[2] Taqiyuddin, Ibnu Taimiyah, Iqtidhâ’ Shirât al-Mustaqîm, vol. 2, hal. 126

[3] Dinukil oleh Imam al-Qusthullany dalam kitabnya al-Mawâhib al-Laddûniyyah, vol. 1, hal. 27

[4] Al-Haitsami, Ibnu Hajar, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, hal. 202

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share