Masa Depan Hubungan Sunni Syiah (Resensi)

musMASA DEPAN HUBUNGAN DENGAN SYI’AH

Judul Buku      : Masa Depan Hubungan dengan Syi’ah [مستقبل العلاقة مع الشيعة]

Penulis             : Saed Faodah

Penerbit           : Dar Al-Nur Al-Mubin – Yordania

Jumlah Hal.     : 80 halaman

Cetakan           : (I) 1436 H – 2015 M

 

Perpecahan adalah fakta yang harus dihadapi oleh umat Islam. Dan berabad-abad lamanya, konflik Sunni-Syi’ah menjadi bagian dari perpecahan itu. Sesungguhnya, mempelajari dan mencari solusi dari akar perbedaan Sunni-Syi’ah adalah satu-satunya jalan untuk mendekatkan kedua aliran Islam tersebut dalam bingkai ukhuwah Islamiyah. Inilah yang akan dielaborasi oleh Prof. Dr. Saed Faodah lewat buku ini. Menurut Saed Faodah, seorang muslim harus peduli akan keadaan umat, yaitu dengan mencari titik temu dan titik pemisah yang ada di dalamnya. Sehingga mampu membimbingnya ke arah titik temu, dan menjauhi titik pemisah.

Seperti karya-karya sebelumnya, Saed Faodah menawarkan solusi ilmiah nan logis, dengan memusatkan perhatian pada titik temu dan titik pemisah antara Sunni-Syi’ah, dan korelasinya dengan sisi historis konflik yang telah terjadi antara keduanya. Dan kemudian menghasilkan konflik berkepanjangan, yang semakin lama semakin terjerumus ke dalam jurang pemisah, tanpa ada jembatan penghubung antara keduanya.

Saed Faodah membagi bukunya menjadi 3 pembahasan penting, yang kemudian ia tuangkan dalam 3 bab pembahasan, yaitu:

  • Tentang Hubungan Sunni dan Syi’ah,
  • Faktor-faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhi Hubungan Sunni dan Syi’ah,
  • Analisa: Faktor-faktor Pendukung Persatuan dan Perpecahan, dan Poros Masa Depan Hubungan Keduanya.

Poin Pertama: Tentang Hubungan Sunni dan Syi’ah

Saed Faodah menekankan akan pentingnya mengenal sejarah, yang berdampak kepada hubungan Sunni dan Syi’ah: “Akan tetapi, yang lebih penting adalah mengetahui pendekatan kedua belah pihak dalam memahami peristiwa-peristiwa dalam sejarah tersebut”. Apakah peristiwa tersebut bagian dari sebuah keyakinan (keimanan)? Atau cukup bisa dipahami dari sisi historis saja? Seperti pada peristiwa-peristiwa sejarah berikut:

  • Kekhilafahan Abu Bakar ra.:

Apakah kekhilafahan ini termasuk dari rukun agama (Islam)? Atau hanya sebuah peristiwa sejarah yang masih sejalan dengan syariat Islam?

  • Konflik yang terjadi di antara para sahabat ra.:

Apakah konflik antara sahabat ra. (Sayyidina Ali ra. dan Sayyidina Muawiyah ra.) adalah konspirasi untuk merebut hak-hak Ahlul Bait ra. dan termasuk dari rukun agama (Islam)?

Atau konflik tersebut adalah sebuah peristiwa sejarah yang terjadi berlandaskan proses ijtihad dari kedua belah pihak?

  • Pembunuhan Husain ra.: Pembunuhnya, siapakah yang bersalah?, dan sikap Sunni terhadap peristiwa tersebut:

Bagaimana sikap Sunni atas peristiwa tersebut? Apakah Sunni rela atas perbuatan tersebut?

Apakah peristiwa tersebut adalah bagian dari rukun agama (Islam/Iman)? Atau hanya sebuah peristiwa sejarah?

  • Ekspansi Tatar dan penghancuran Baghdad (656 H), dan peran Syi’ah di dalamnya.:

Apakah peran Syi’ah dalam peristiwa tersebut berlandaskan kepada keyakinan dalam mazhab Syi’ah? Apakah yang dilakukan oleh Nashiruddin al-Thusy adalah penerapan atas kaidah mazhab Syi’ah? Apakah yang dilakukannya adalah keyakinan dan cara mereka bermuamalah dengan kaum Sunni?

Atau itu hanya sebuah peristiwa sejarah yang dilandaskan kepada ijtihad? Dan ijtihad bisa benar dan bisa salah?

Poin Kedua: Faktor-faktor Internal dan Eksternal, yang Mempengaruhi Hubungan Sunni dan Syi’ah

Faktor Internal:

  • Hal-hal penting yang disepakati oleh Sunni dan Syi’ah, yang berdampak pada masa depan hubungan keduanya:
    • Dalam akidah:
      1. Iman kepada Allah swt.:

Terdapat beberapa perbedaan antara Sunni dan Syi’ah tentang Dzat Allah swt. dan Sifat-Sifat-Nya, sebagaimana terdapat perbedaan antara Sunni dengan Mu’tazilah, Zaidiyah, Ibadiyah, dan lainnya. Sebagaimana Syi’ah mewajibkan sifat “al-Lathif”, yang kemudian menjadi perantara untuk menetapkan imamah.

  1. Iman kepada Sayyidina Muhammad saw.:

Tidak ada perbedaan antara Sunni-Syi’ah dalam masalah kenabian, kecuali tentang imamah, yang (menurut Syi’ah) tidak berbeda dengan kenabian. Perbedaan keduanya hanya pada turunnya wahyu dan tidak.

  • Iman kepada Hari Akhir
  1. Dan ada perbedaan lain dalam Syi’ah, seperti kegaiban imam, al-Raj’ah, taqiyah, menghina para sahabat ra. – bahkan pada sisi keimanan mereka ra. -, dan sebagainya.
  • Dalam Usul Fikih dan Fikih:
    1. Al-Qur’an:

Secara umum, Syi’ah menjadikan Al-Qur’an sebagai hujjah. Akan tetapi, di dalam Syi’ah sendiri terjadi perbedaan pendapat tentang Al-Qur’an; sebagian berpendapat telah terjadi penambahan di dalamnya, sebagian berpendapat telah terjadi pengurangan di dalamnya, dan sebagian lain berpendapat Al-Qur’an tetap utuh dan tidak ada perubahan di dalamnya.

Sunni sepakat, bahwa setiap muslim yang meyakini terjadi penambahan atau pengurangan dalam Al-Qur’an adalah kafir.

Maka, dalam masalah ini Syi’ah harus menentukan sikap yang pasti; apakah telah terjadi penambahan/pengurangan dalam Al-Qur’an? Atau tidak? Karena Al-Qur’an adalah kitab suci Sunni dan Syi’ah.

  1. Ijmak:

Sebagian Syi’ah mengakui ijmak dan sebagian lagi tidak, dengan dalil bahwa imam mereka yang gaib belum tentu sepakat atas ijmak tersebut. Dengan demikian, mereka tidak menjadikan ijmak sebagai hujjah. Sebagaimana sebagian muktazilah tidak menjadikannya hujjah.

  • Qiyas:

Sebagian besar Syi’ah tidak menjadikan qiyas sebagai hujjah. Akan tetapi, Syi’ah memiliki metodenya sendiri dalam menentukan hukum, yang disebut dengan (الطرق العملية فى الحكم).

  1. Akal adalah hujjah:

Syi’ah mengatakan, bahwa hukum syariat dalam masalah cabang dapat diketahui melalui Al-Qur’an, Al-Hadis, Ijmak, dan Akal.

Hal-hal penting yang di dalamnya terjadi perbedaan pendapat antara Sunni dan Syi’ah, yang berdampak pada masa depan hubungan keduanya adalah imamah.

Menurut Syi’ah imamah harus dengan nas, baik Al-Qur’an maupun Hadis, dan imamah adalah penyempurna kenabian/kerasulan. Oleh karena itu, kita harus membahas beberapa poin penting dalam masalah imamah, yaitu:

  • Imamah menurut pengertian Syi’ah dan Sunni,
  • Hukum imamah menurut logika (akal),
  • Apakah implikasi dari pengertian imamah menurut Sunni kepada Syi’ah? Dan apakah implikasi dari pengertian imamah menurut Syi’ah kepada Sunni?

 Faktor Eksternal:

Beberapa faktor eksternal yang berdampak kepada hubungan Sunni-Syi’ah, seperti:

  • Konspirasi untuk memecah belah umat Islam,
  • Pengertian dari istilah “ekspor revolusi” (تصدير الثورة) dalam Syi’ah.

Poin Ketiga: Analisa: Faktor-faktor Pendukung Persatuan dan Perpecahan, dan Poros Masa Depan Hubungan keduanya.

Untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan antara Sunni-Syi’ah, kita membutuhkan ketegasan sikap dari Syi’ah pada beberapa hal:

  • Al-Qur’an: Apakah terjadi pengurangan/penambahan di dalamnya? Atau Al-Qur’an sempurna dan tidak ada pengurangan/penambahan di dalamnya?
  • Bagaimana keyakinan dan sikap mereka atas peristiwa-peristiwa sejarah yang telah disebutkan di atas?

Dan yang harus kita tanyakan kepada seluruh golongan dalam tubuh umat Islam yang terjadi khilaf dan perpecahan di antara mereka adalah:

Apakah untuk mencapai persatuan kita harus menanggalkan dan menghapus semua perbedaan/pertentangan ini?

Apakah menghapus dan menghilangkan perbedaan/pertentangan ini mungkin terjadi?

Apakah persatuan bisa tercapai meskipun perbedaan/pertentangan ini tetap ada?

Apabila persatuan bisa tercapai meski dengan adanya perbedaan/pertentangan tsb., maka di hadapan kita ada 3 opsi kemungkinan, yaitu:

  • Kesepakatan dari semua golongan yang bertikai, untuk menghilangkan semua perbedaan/pertentangan,
  • Kedua belah pihak saling menafikan perbedaan/pertentangan yang ada dan menganggapkan – seakan-akan – tidak ada,

Akan tetapi, sejarah seakan-akan telah mengajarkan kepada kita, bahwa kedua opsi di atas – seakan-akan – mustahil terjadi. Dan tersisa di hadapan kita opsi terakhir, yaitu:

  • Sebuah persyaratan objektif untuk berpikir dalam masalah ini.
    • Perbedaan dan pertentangan di antara umat Islam adalah kenyataan yang tidak terelakkan dan akan terus berlanjut.
    • Koeksistensi dan saling membantu dalam hal-hal yang disepakati antara umat Islam adalah sebuah kewajiban, dan (hal ini) berdampak kepada kemaslahatan kedua belah pihak.

Apakah setelah kita melalui persyaratan objektif di atas, membuahkan larangan berdebat tentang perbedaan/pertentangan tersebut?

Perdebatan adalah kenyataan yang tidak mungkin terelakkan. Akan tetapi, perdebatan dengan cara yang baik (الجدال بالتى هي أحسن) adalah satu-satunya jalan untuk mendekat kepada pemahaman Islam yang lurus. Dan hal ini tidak akan tercapai, kecuali dengan menggunakan metodologi riset yang benar dan ilmiah, serta dengan menghargai pendapat lawan.

Apakah yang akan dilakukan oleh para pemimpin Syi’ah di Iran dan negara-negara lain; apakah mereka memilih menyebarkan paham Syi’ah untuk merusak ketenangan suatu kawasan agar mereka bisa ekspansi ke dalamnya? Atau mereka memilih untuk bermuamalah sewajarnya dengan dialog dan menyampaikan pemikiran secara adil?

Kita hanya berharap, agar tujuan atas pilihan masing-masing golongan untuk kebaikan dan kemaslahatan Islam dan umat Islam.

Dan yang terakhir:

Apakah dalam kondisi seperti ini kita (baca: Sunni) mampu untuk melarang penganut Syi’ah melaksanakan keyakinannya dengan menggunakan semua media?

Bukankah kewajiban kita – sebagai Ahlussunah wal jamaah – untuk menjelaskan dan menyampaikan agama Islam yang benar kepada semua umat manusia, meskipun tidak ada satu pun negara Sunni yang mencerminkan pemahaman mazhab Ahlussunnah yang utuh dan benar.

Karya Prof. Dr. Saed Faodah ini mengajak para penuntut ilmu untuk mulai merevisi cara pandangnya dalam menyikapi konflik Sunni-Syi’ah, sehingga terjadi perdebatan ilmiah yang baik yang menghasilkan ilmu, kebudayaan, dan persatuan.

Oleh karena itu, buku ini sangat penting bagi siapa saja, terutama para penuntut ilmu agama Islam, agar mampu bersikap adil dan obyektif dalam konflik Sunni-Syi’ah. Sebab, di atas pundak merekalah harapan persatuan umat Islam bisa dibangun. [A.F. Abdillah]

 

 

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share