• Home »
  • Fikih »
  • Kisah Inspiratif; Tak Ada Kata Terlambat untuk Mencari Ilmu

Kisah Inspiratif; Tak Ada Kata Terlambat untuk Mencari Ilmu

ilmu

Sebagian orang merasa minder untuk belajar ketika usianya sudah dewasa. Padahal Nabi SAW. pernah bersabda bahwa mencari ilmu itu dimulai dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Pada dasarnya mencari ilmu, khususnya ilmu agama, tidak ada batasan usianya. Karena setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda. Karenanya, tidak perlu merasa malu untuk belajar meskipun masyarakat pada umumnya memandang sudah telat.

Ada beberapa ulama besar dalam sejarah Islam yang di zamannya dianggap sudah sangat telat untuk belajar, seperti Imam al-Qaffal, Imam Ibnu Hazm, Imam Izz bin Abdissalam dan lainnya.

Imam al-Qaffal; Abu Bakar Abdullah bin Ahmad bin Abdullah al-Maruzi al-Khurasani, sosok yang sangat alim, salah seorang pembesar ulama mazhab Syafi’i. Beliau mulai menyukai ilmu fikih dan senantiasa membacanya ketika umurnya sudah mencapai 30 tahun. Kesungguhannya dalam mencari ilmu tersebut mengantarkannya menjadi salah seorang ahli fikih dan ahli zuhud. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa beliau adalah seorang malaikat yang berwujud manusia. Beliau wafat pada tahun 417 H, pada usia 90 tahun[1].

Demikian juga Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Hazm, ulama besar dari Persia yang kemudian menetap di Andalusia. Karya-karya besarnya menjadi sumber rujukan para ulama hingga saat ini. Meski demikian, ternyata beliau baru memulai belajar setelah berumur 26 tahun. Pada saat itu umur seperti itu sudah tergolong tua untuk ukuran seorang penuntut ilmu. Hal yang membuat beliau tergerak untuk belajar adalah peristiwa di masjid yang terus terngiang di benak beliau. Suatu hari beliau pernah masuk masjid untuk menghadiri shalat jenazah. Setelah masuk masjid, beliau langsung duduk tanpa melakukan shalat “tahiyyah masjid”. Kemudian ada orang yang menegurnya, “Berdiri dan shalatlah tahiyyah masjid!” Lantas beliau pun berdiri dan shalat. Sekembali dari shalat jenazah, beliau masuk ke sebuah masjid lagi. Ketika hendak menunaikan shalat tahiyyah masjid, padahal saat itu ba’da Ashar, ada orang yang menegurnya, “Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu untuk shalat”. Setelah itu dia pulang dengan sedih dan bertekad untuk belajar. Akhirnya Allah SWT. Memberinya karunia ilmu yang banyak.[2]

Kemudian kisah yang ketiga adalah tentang Sulthanul Ulama Imam Abdul Aziz bin Abdus Salam as-Sulami; Abu Muhammad Izzuddin. Beliau seorang imam, qadhi, ahli fikih dan usul fikih, bermazhab Syafi’i, ahli tafsir dan bahasa, zuhud, dan sangat giat beramar ma’ruf dan nahi mungkar melebihi ulama di zamannya. Pengembaraan ilmunya dimulai ketika sudah berusia lanjut. Imam Taqiyyuddin as-Subki[3] berkata, “ Mulanya Syekh Izzuddin hidup dalam keadaan sangat miskin. Beliau baru mulai belajar ketika sudah berusia dewasa. Faktor yang membuat beliau tergerak untuk belajar adalah pernah suatu hari beliau tidur malam di pintu bagian utara Masjid Umawi di Damaskus. Cuaca malam itu sangat dingin sekali, lantas beliau bermimpi basah (junub). Dengan segera beliau bangun dan pergi ke sumur untuk mandi. Setelah mandi, beliau merasa sangat kedinginan. Kemudian beliau kembali lagi tidur dan bermimpi basah lagi. Akhirnya pergi lagi ke sumur untuk mandi. Karena pintu masjid saat itu tertutup dan tidak memungkinkannya keluar, maka beliau memanjat pintu. Namun akhirnya beliau pingsan lantaran kedinginan.”[4] Hal itu terjadi karena beliau tidak mengetahui bahwa sebenarnya beliau diperbolehkan untuk tidak mandi dan menggantinya dengan tayamum ketika musim dingin dan tidak ada air hangat. Ketika beliau mengetahui hal itu, beliau bertekad untuk mulai mencari ilmu. Hasilnya? Beliau menjadi pimpinan para ulama di Mesir dan Syam, bahkan pimpinan seluruh ulama di zamannya.

Khatib al-Bagdadi[5] berkata, “Jika ada seseorang berkata, “Belajar fikih hanya cocok untuk masa muda; karena hal itu membutuhkan konsistensi, kesabaran dan ketekunan. Orang yang sudah berusia lanjut tidak akan mungkin melakukan hal itu.” Kami jawab, “Apa yang telah anda sebutkan bukan merupakan halangan untuk mencari ilmu. Lebih baik anda meninggal dunia dalam keadaan mencari ilmu daripada dalam keadaan tidak mencarinya.”[6] Pernah suatu hari Ibrahim bin Mahdi[7] bertamu ke Khalifah al-Makmun.[8] Saat itu di sana ada banyak orang yang sedang berbicara mengenai fikih. Lantas al-Makmun berkata kepadanya, “Wahai paman, apa yang kamu ketahui perihal masalah yang mereka bicarakan?” Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang memperkerjakan kita sejak kecil dan setelah dewasa kita sibuk [tidak sempat belajar].” Lantas al-Makmun berkata, “Mengapa sekarang kamu tidak belajar?” Dia menjawab, “Apakah orang sepertiku masih layak untuk belajar?” al-Makmun menjawab, “Iya, demi Allah. Lebih baik kamu mati dalam keadaan mencari ilmu daripada mati dalam keadaan tetap bodoh”. Dia berkata, “Kapan  waktu yang baik untuk mencari ilmu?” Al-Makmun menjawab, “Selama hidupmu.” (ruwaqazhar.com)

 

[1] Siyar A’lâm Nubalâ, al-Dzhabi, (17/ 405-408)

[2] Siyar A’lâm Nubalâ, al-Dzhabi, (18/ 184-212)

[3]  Ali bin Abdul Kafi bin Ali as-Subki; Abu Hasan. Ulama mazhab Syafi’i. Dilahirkan di daerah Subk al-Abid Mesir pada tahun 683 H. Beliau tumbuh dan belajar di daerahnya dan di Kairo. Kemudian pindah ke Damaskus sebagai Qadhi dan Khatib di Masjid Umawi. Kemudian pindah lagi ke Mesir dalam keadaan sakit. Beliau wafat di Mesir pada tahun 756 H. (ad-Durar al-Kâminah, 3/ 134-142)

[4] Izz bin Abdus Salam; Sulthanul Ulama wa Baa’iul Mulûk, hal. 46- 47

[5] Beliau adalah Ahmad bin Ali bin Tsabit. Seorang ulama yang sangat alim dan mempunyai karangan sangat banyak. Beliau dilahirkan pada tahun 392 H. Beliau banyak menulis kitab ilmu hadits hingga mengungguli para ulama di zamannya. Belaiu termasuk deretan pembesar ulama mazhab Syafi’i. Beliau wafat pada tahun 463 H. (Siyar A’lâm Nubalâ (18/ 270- 297)

[6] an-Nubdz fi Âdâbi thalabil ilmi, hal. 229

[7] Beliau adalah Abu Ishaq bin Amirul Mukminin Muhammad bin Abi Ja’far al-Hasyimi al-Abbasi al-Aswad. Beliau diberi gelar dengan “al-Mubarak”.  Beliau wafat pada tahun 224 H dalam usia 62 tahun. (Siyar A’lâm Nubalâ (10/ 557- 561)

[8] Beliau adalah Abdullah bin Harun ar-Rasyid bin Muhammad; Abu Abbas al-Hasyimi. Beliau wafat pada tahun 218 H.  (Siyar A’lâm Nubalâ (10/ 272)

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share