Hukum Pengamalan Hadis Dhaif antara Teori dan Amal

 hadits

Oleh: M. Maulana Nur Kholis, Lc.

Hadis dilihat dari segi diterima dan ditolaknya, hadis terbagi menjadi 3: Shahih, Hasan, dan Dhaif. Hadis shahih dan hasan telah disepakati para muhaddisin dan fukaha dapat diaplikasikan dalam hukum syariat.[1] Dan yang menjadi pokok pembahasan dan perbedaan  kita sekarang adalah tentang hadis dhaif dan aplikasinya. Hadis dhaif adalah hadis yang tidak memenuhi persyaratan shahih dan hasan (maqbul)[2].

Sebelum kita mengkaji hukum pengamalan hadis dhaif, kita akan membahas terlebih dahulu hukum periwayatan hadis dhaif menurut ulama hadis. Di sini kita akan menganalisa tema ini secara teori dan amali.

Secara teori, ulama hadis telah menyepakati diperbolehkannya meriwayatkan hadis dhaif. Itu terbukti dengan banyaknya hadis-hadis dhaif di sejumlah kitab hadis. Semisal kitab-kitab sunan (Sunan Abî Dâwûd, Sunan at-Tirmidzî, Sunan an-Nasâî, dan Sunan Ibni Mâjah, dan sunansunan yang lain). Imam Muhammad bin Thahir al Maqdisi dalam kitab Syurûth al-Aimmah as-Sittah menjelaskan metode-metode ulama-ulama al-kutubu’s-sittah (Shahîh al-Bukhârî, Shahîh Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzî, Sunan an-Nasâî, Sunan Ibni Mâjah) dalam meriwayatkan dan pengambilan suatu hadis.

Dalam Sunan Abî Dâwûd, misalnya, Imam Ibnu Thahir al-Maqdisi menjelaskan bahwa Imam Abu Dawud membagi hadis-hadisnya menjadi tiga bagian. Pertama, hadis shahih sebagaimana dalam Shahîh al-Bukhârî dan Shahîh Muslim. Kedua, hadis shahih sesuai dengan standar Abu Dawud yang tidak ada di Shahîh al-Bukhârî dan Shahîh Muslim. Ketiga, hadis tidak shahih yang diriwayatkan untuk melawan suatu pendapat dalam suatu bab fikih[3]. Di sisi lain, Imam Abu Dawud sendiri juga telah menjelaskan metodenya dalam kitabnya, Risâlah Abî Dâwûd ilâ Ahli Makkah fî Washfi Sunanihi, beliau menyatakan:

“Dalam kitab sunan yang saya karang ini tidak ada perawi yang matrûk (yang ditinggalkan hadisnya, karena diduga berdusta), dan jika ada hadis munkar (hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya), maka saya jelaskan ke-munkar-annya  … dan jika ada hadis yang sangat lemah maka akan saya jelaskan. Dan juga ada hadis yang tidak shahih sanadnya.” [4]

Dalam Sunan at-Tirmidzî, Imam Ibnu Thahir al-Maqdisi menjelaskan bahwa al-Tirmdzi membagi hadis dalam sunan-nya menjadi empat bagian. Bagian ketiga, yaitu hadis yang diriwayatkan sebagaimana dalam bagian ketiga dalam Sunan Abî Dâwûd dengan menjelaskan kecacatan hadisnya. Bagian keempat, yaitu tidak ada satu hadis yang diriwayatkan at-Tirmidzi dalam sunannya kecuali telah diamalkan oleh sebagian fukaha. Metode atau bagian keempat ini adalah bagian yang cukup luas, yang mencakup hadis yang shahih sanadnya, dan juga hadis yang tidak shahih sanadnya[5].

Dari pernyataan Imam al-Maqdisi, serta pernyataan Imam Abu Dawud dan Imam at-Tirmidzi sendiri di atas telah menunjukkan adanya hadis-hadis dhaif di kitab-kitab mereka. Bahkan kalau kita menganalisa kitab-kitab yang mensyaratkan hadis shahih, seperti Shahîh Ibnu Hibbân, Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhain li’l-Imam al-Hâkim, Shahîh Ibni Khuzaimah dan kitab-kitab yang lain, kita akan menemukan hadis dhaif pula. Bahkan Imam al-Bukhari dalam beberapa kitabnya, yang sebagian orang dianggap sangat keras menolak hadis dhaif, akan kita temukan hadis-hadis dhaif, seperti kitab al-Adabu’l-Mufrad, Raf’u’l-Yadain fî’sh-Shalâh, al-Qirâah Khalfa’l-Imâm, dan kitab-kitab yang lain.

Dalam segi amali, kita lihat dalam Sunan Abî Dâwûd, kitab al-Thahârah (bersuci), bab mandi dari janabat, hadis no. 248 yang berbunyi[6]:

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِىٍّ، حَدَّثَنِى الْحَارِثُ بْنُ وَجِيهٍ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ((إِنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعْرَةٍ جَنَابَةً فَاغْسِلُوا الشَّعْرَ وَأَنْقُوا الْبَشَرَ)) قَالَ أَبُو دَاوُدَ: الْحَارِثُ بْنُ وَجِيهٍ حَدِيثُهُ مُنْكَرٌ وَهُوَ ضَعِيفٌ.

“Sesungguhnya di bawah setiap rambut terdapat janabat, maka basuhlah rambut kalian, dan bersihkanlah kulit kalian.” Kemudian Imam Abu Dawud setelah meriwayatkan hadis tersebut berkata: al-Harits bin Wajih hadisnya munkar, dan dia dhaif.

Contoh lain di Sunan at-Tirmidzî, kitab thahârah, bab memakai sapu tangan setelah wudhu, hadis no. 53 yang berbunyi[7]:

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعِ بْنِ الْجَرَّاحِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ حُبَابٍ، عَنْ أَبِى مُعَاذٍ، عَنِ الزُّهْرِىِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: ((كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خِرْقَةٌ يُنَشِّفُ بِهَا بَعْدَ الْوُضُوءِ)). قَالَ أَبُو عِيسَى: حَدِيثُ عَائِشَةَ لَيْسَ بِالْقَائِمِ وَلاَ يَصِحُّ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فِى هَذَا الْبَابِ شَىْءٌ وَأَبُو مُعَاذٍ يَقُولُونَ هُوَ سُلَيْمَانُ بْنُ أَرْقَمَ وَهُوَ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ.

”Rasulullah saw.  memiliki kain (sapu tangan) untuk mengusap setelah wudhu”. Setelah meriwayatkan hadis tersebut Imam at-Tirmidzi berkata: hadis Aisyah tidak kuat, dan tidak ada hadis shahih dalam permasalahan ini, Abu Muaz perawi hadis di atas bernama Sulaiman bin Arqam, dia dhaif menurut ahli hadis.

Itu dua contoh kecil dari kitab-kitab hadis yang berisi hadis dhaif dengan pengakuan dan penjelasan dari para ulama hadis, yang menunjukkan diperbolehkannya meriwayatkan hadis dhaif.

Adapun hukum mengamalkan hadits dhaif, secara teori, Imam Syamsuddin bin Abdurrahman as-Sakhawi, murid dari al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebutkan ada 3 madzhab dalam mengamalkan hadis dhaif, antara lain[8]:

Pertama, boleh mengamalkan hadis dhaif secara mutlak, baik dalam fadlâilu’l-a’mâl, maupun dalam hukum syariat (halal, haram, wajib dan lain-lain) dengan syarat dhaifnya tidak dla’îf syadîd (lemah sekali), dan juga tidak ada dalil lain selain hadis tersebut, atau dalil lain yang bertentangan dengan hadis tersebut. Prof. Dr. Nuruddin ’Itr mengatakan dalam Manhaju’n-Naqd fî ‘Ulûmi’l-Hadîts[9] bahwa ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud. Imam Ahmad berkata: hadis dhaif lebih kami sukai dari pada pendapat ulama (al-ra`y), karena dia tidak mengambil dalil qiyas kecuali jika tidak ada nas lagi[10]. Imam Ibnu Mandah juga berkata: Imam Abu Dawud meriwayatkan hadis dengan sanad yag dhaif jika tidak ada dalil lain selain hadis tersebut, karena menurut Abu Dawud hadis dhaif lebih kuat dari pada ra’y[11]. Prof. Dr. Khalil Mula al-Khatir dalam salah satu kajiannnya yang berjudul Khuthûrah Musâwâti’l-Hadîts adl-Dla’îf bi’l-Maudlû’[12] menyatakan bahwa di antara para ulama hadis dan fukaha yang berpendapat mazhab ini adalah Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ibnu Hazm, Imam Abu Hatim ar-Razi, Imam al-Auza’i, Imam Sufyan ats-Tsauri.

Kedua, boleh dan sunnah mengamalkan hadis dhaif dalam hal fadilu’l-a’mâl, zuhud, nasehat, kisah-kisah, selain hukum syariat dan akidah, selama hadis tersebut bukan hadis maud (palsu). Ini adalah mazhab jumhur ulama dari muhadisin, fukaha dan ulama yang lain. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Imam Ibnu al-Mubarak, Imam Abdurahman bin al-Mahdi, Imam Ibnu al-Shalah, Imam al-Nawawi, Imam al-Sakhawi, dan para ulama hadis yang lain, bahkan Imam al-Nawawi menyatakan kesepakatan ulama hadis, ulama fukaha dan ulama-ulama yang lain dalam mengamalkan hadis dhaif dalam hal fadlâilu’l-a’mâl, zuhud, kisah-kisah dan hal-hal yang lain selain perkara yang berhubungan dengan hukum syariat dan akidah[13]. Dalam mengamalkan hadis dhaif dalam hal fadlâilu’l-a’mâl, para ulama mensyaratkan 3 hal. Yaitu: 1) Hadis tersebut tidak boleh dla’îf syadîd (lemah sekali); 2) Hadis tersebut masuk dalam salah satu kaidah syariat; 3) Ketika mengamalkannya kita tidak boleh meyakini kebenaran hadis tersebut diucapkan oleh Nabi saw.

Ketiga: Tidak boleh mengamalkan hadis dhaif secara mutlak, baik dalam hal fadlâilu’l-a’mâl maupun dalam hukum syariat. Ini adalah madzhab Imam Abu Bakar Ibnu al-Arabi, al-Syihab al-Khafaji, dan al-Jalal ad-Dawwani.

Sekarang kita akan menganalisa pengamalan hadis dhaif dari para ulama hadis sekaligus ulama fiqih secara amali. Imam Malik, misalkan, Imam Ibnu Abdil Bar dalam Tamhîd-nya menyatakan  ada 61 hadis dengan shîghah balâghah (disampaikan) dan hadis mursal, namun semuanya disambungkan sanadnya oleh beliau, kecuali 4 hadis[14].

Contoh lain dalam masalah mengusap kaos kaki dalam bersuci. Imam Malik tidak menentukan waktunya berdasarkan perkataan sahabat dan tabiin, padahal ada hadis Nabi saw. dengan sanad muttashil menentukan waktunya: 3 hari untuk musâfir, sehari semalam untuk muqîm[15].

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa dalam shalat dapat membatalkan wudhu dan shalat berdasarkan hadis mursal yang diriwayatkan Imam al-Hasan al-Bashri, meskipun para ulama hadis mendhaifkan hadis tersebut[16].

Contoh lain, Imam Abu Hanifah memperbolehkan wudhu dengan  air anggur, dan mendahulukan hadis tentang wudhu dengan  air anggur dari pada qiyas, meskipun hadis tersebut dhaif[17].

Imam Syafi’i memperbolehkan shalat di Makkah di waktu dilarangnya untuk shalat, meskipun hadis tersebut dhaif. Beliau juga mendahulukan hadis siapa yang muntah atau mimisan, maka hendaklah berwudhu dan meneruskan shalatnya, dari pada qiyas, meskipun hadis tersebut dhaif[18]. Imam Ahmad mengambil hadis الناس أكفاء إلا الحائك والحجام (manusia sederajat, kecuali penganyam dan pembekam) dalam syarat pernikahan, meskipun hadis tersebut dhaif. Dan banyak lagi contoh yang menunjukkan bahwa para ulama hadis dan ulama fikih mengamalkan hadis dhaif dalam fadlâilu’l-a’mâl dengan 3 syarat di atas, bahkan diamalkan dalam hukum fikih, dengan syarat hadis tersebut tidak maudlû’ (palsu) dan tidak ada dalil selain hadis tersebut. Wallahu a’lam.[]

 



[1] Lihat Jalaluddin as-Suyuthi, Tadrîb ar-Râwî, tahqiq: Thariq bin Iwadillah, Saudi Arabia: Dar al-‘Ashimah, 2003, cet. I, , juz I, hlm. 96.

[2] Ibid., juz I, hlm. 263. Lihat juga al-Suyuthi, Al-Bahr alladzî Dzakhar fî Alfiyati’l-Atsar, juz III, hlm. 1283.

[3] Lihat Imam Muhammad bin Thahir al-Maqdisi, Syurût al-Aimmah as-Sittah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1984, cet.  I, hlm. 19-20.

[4] Abu Dawud as-Sijistani, Risâlah Abî Dâwûd ilâ Ahli Makkah fî Washfi Sunanihi, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1997, cet. IV, hlm. 66-70.

[5] Imam Muhammad bin Thahir al-Maqdisi, Syurûth al-Aimmah as-Sittah, op.cit. hlm. 21.

[6] Abu Dawud as-Sijistani, Sunan Abî Dâwûd, Beirut: Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, 2009, cet. I, juz II, hlm. 180.

[7] Abu Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzî, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, juz. I, hlm. 74.

[8] Imam Syamsuddin bin Abdurrahman as-Sakhawi, al-Qaul al-Badî’ ash-Shalâh ‘alâ al-Habîb al-Syâfî‘, Mesir: Dar al-Rayyan li’t-Turats, hlm. 256. Lihat juga: Prof. Dr. Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd Ulûm al-Hadîts, Beirut: Dar al-Fikr, 1979, cet. II, hlm. 291-294.

[9] Prof. Dr. Nuruddin ‘Itr, Manhaju’n-Naqd fî ‘Ulûmi’l-Hadîts, ibid., hlm. 291.

[10] Ibnu Hazm, al-Muhallâ, Mesir: al-Muniriyyah, tahqiq: Syaikh Ahmad Syakir, 1347 H., cet I,  juz. I, hlm. 68. Lihat juga:  Jalaluddin al-Suyuthi, Tadrîb ar-Râwî, op. cit., juz. I, hlm. 247.

[11] Ibnu Mandah, Fadllu’l-Akhbâr wa Syarh Madzâhib Ahli’l-Âtsâr, tahkik. Abdul al-Rahman al-Faryawai ,Riyad: Dar al-Muslim, cet. I, hlm. 73; Ibnu Shalah, ‘Ulûmu’l-Hadîts, 1931, cet. I, hlm. 40.

[12] Prof. Dr. Khalil Mula al-Khatir, Khuthûrah Musâwâti’l-Hadîts adl-Dla’îf bi’l-Maudlû’, 1428 H.,  cet. I, hlm. 63-65. Kajian tersebut disampaikan dalam suatu simposium di Fakultas Dirasat Islamiyah wal Arabiyah di Dubai.

[13] Imam al-Nawawi, al-Adzkâr, Makkah: Maktabah Nazar Mustafa al-Baz, 1997, cet. I, juz. I, hlm. 10-11. Lihat juga: Imam al-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, tahqiq: Muhammad Najib al-Muthi’i, Saudi Arabia: Maktabah al-Irsyad, juz. III, hlm. 226.

[14] Keempat hadis tersebut adalah:

  1. hadis (إِنِّي لَأَنْسَى أَوْ أُنَسَّى لِأَسُنَّ)
  2. hadis: (إِذَا أَنْشَأَتْ بَحْرِيَّةً ثُمَّ تَشَاءَمَتْ فَتِلْكَ عَيْنٌ غُدَيْقَة)
  3. hadis: (إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوا مِنْ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِي طُولِ الْعُمْرِ فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ)
  4. Hadis: (أَحْسِنْ خُلُقَكَ لِلنَّاسِ يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ).

 

[15] Ibnu Abdil Bar, al-Tamhîd limâ fi’l-Muwaththa` mina’l-Ma’ânî wa’l-Asânîd, tahqiq: Mustafa bin Ahmad al-Alawi, Maroko: Wizarah al-Auqaf wa’sy-Syu`un al-Islamiyyah, 1985, juz. XI, hlm. 150.

[16] Muhammad bin Hasan al-Syaibani, Kitâbu’l-Âtsâr, ta’liq: Abu al-Wafa’ al-Afghani, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1993, cet. II, juz. I, hlm. 421.

[17] Muhammad bin Abdil Hadi, Tanqîh Tahqîq Ahâdîtsi’t-Ta’lîq, tahqiq: Sami Bin Muhammad bin Jadillah, Riyad: Adwa’ al-Salaf, 2007, cet. I, juz. I, hlm. 51. Lihat juga: Ibnu Qayyim al-Jauziyah, I’lâmu’l-Muwaqqi’în, tahqiq: Masyhur bin Hasan As-Salman, Saudi Arabia: Dar Ibnu al-Jauzi, cet. I, 1423 H., juz. II, hlm. 56.

[18] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, I’lâmu’l-Muwaqqi’în, op. cit.,  juz. II, hlm. 58.

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share