• Home »
  • Berita »
  • Didesak untuk Mengafirkan ISIS, Ini Jawaban Grand Shaikh Al-Azhar

Didesak untuk Mengafirkan ISIS, Ini Jawaban Grand Shaikh Al-Azhar

grand shaikhRuwaqazhar, Kairo—Sejumlah masyarakat muslim mendesak Al-Azhar untuk mengeluarkan fatwa bahwa ISIS kafir dan bukan Islam. Desakan ini mengacu pada aksi-aksi eksrem ISIS di lapangan yang dipandang sangat merugikan citra Islam itu sendiri karena bertentangan dengan ajaran Islam.

Derasnya desakan publik agar Al-Azhar segera mengeluarkan fatwa vonis kafir ISIS membuat Grand Shaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayeb berkomentar. Dalam keterangannya sebagaimana dikutip oleh website resmi Al-Azhar, beliau menjelaskan berulang kali bahwa ISIS adalah kelompok sparatis yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta menebarkan kerusakan di muka bumi. Karenanya para pemimpin negara wajib memerangi mereka. Hukum mengenai kelompok sparatis itu sudah sangat jelas di dalam Al-Quran.

Di dalam Al-Quran, hukuman bagi mereka yang mengklaim diri berhukum dengan hukum Allah, mengafirkan para pemimpin dan masyarakat serta menebarkan kerusakan di muka bumi adalah dibunuh di dunia dan mendapatkan azab yang pedih kelak di akhirat. Itu sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya balasan bagi mereka yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta menebarkan kerusakan di muka bumi adalah mereka dibunuh….”

Jawaban Grand Shaikh ini sudah sangat tegas dan jelas serta moderat, berdasarakan dalil-dalil agama dan berangkat dari keyakinan yang benar, yaitu tidak mengafirkan seorang muslim lantaran berdosa meskipun dosa tersebut adalah dosa besar.

“Kita tidak boleh terjerumus ke dalam lubang yang sama seperti kelompok teroris ISIS dan semisalnya dengan mengafirkan masyarakat, baik pemimpin maupun rakyat meskipun mereka melakukan dosa besar,” ungkap Grand Shaikh.

Beliau juga menjelaskan bahwa rukun iman terdiri dari iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta takdir baik dan buruk. Dan keimanan tidaklah terlepas dari seorang muslim melainkan jika ia mengingkari salah satu rukun tersebut. Jika ia tidak mengingkari salah satu dari keenam rukun tersebut maka ia masih dianggap sebagai seorang muslim mukmin meskipun ia melakukan dosa besar. Ia tidak keluar dari keimanan melainkan jika ia mengingkari apa yang membuatnya menjadi beriman. (ruwaqazhar/dz)

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share