Balasan Allah Karena Melaknat Non-Muslim

madad

Alkisah ada seorang ulama besar di Bagdad yang dikenal dengan kesalehan dan keilmuannya, ingin menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah SAW.. Ia berangkat bersama para murid yang selama ini belajar dan mengaji kepadanya.

Di tengah perjalanan mereka kehausan karena cuaca pada saat itu sangat panas. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri terlihat sebuah rumah. Mereka pun berteduh di sampingnya dengan seizin pemiliknya yang merupakan seorang Pastur Nasrani. Karena kelelahan, rombongan tertidur, namun tidak dengan syaikh mereka. Ia melangkahkan kaki untuk mencari air wudhu. Ketika di tengah perjalanan, ia melihat seorang gadis belia di atas rumah. Ia pun lupa tujuannya untuk mencari air wudhu. Dalam pikirannya hanya ada bayangan gadis tersebut.

Akhirnya ia mengetuk pelan pintu rumah pastur tersebut. Si pastur membuka pintu dan bertanya: “Siapa anda?” Ia menjawab dan mengenalkan dirinya sebagai seorang ulama.

“Apa yang kamu inginkan?” tanya si pastur

“Wahai pastur, gadis yang terlihat di atas rumah apa hubungannya denganmu?”

“Ia adalah putriku, ada apa?”

“Saya ingin menikahinya.”

“Itu tidak boleh dalam agama kami. Jika boleh maka tentu aku akan menikahkanmu dengannya tanpa meminta pendapatnya. Tapi aku sudah berjanji kepadanya untuk tidak menikahkannya melainkan dengan lelaki yang ia cintai. Aku akan memberitahunya tentang dirimu. Jika ia mau maka aku akan menikahkannya denganmu.”

Kemudian pastur tersebut pun menanyakan hal itu kepada putrinya, dan syaikh mendengarkannya. Putrinya menjawab: “Wahai ayahku, bagaimana anda menikahkanku dengannya, aku beragama Nasrani sedangkan ia beragama Islam? Itu tidak mungkin kecuali jika ia masuk ke agama Nasrani,” jawab si gadis.

“Apakah jika ia memeluk agama Nasrani kamu mau menikah dengannya?” tanya sang ayah.

“Iya,” jawab si anak.

Syaikh pun semakin bingung dan hatinya penuh dengan kegalauan. Namun karena setan sudah menguasai pikiran dan hatinya, ia pun menjawab: “Aku telah keluar dari Islam, dan memeluk agamamu.”

“Kalau begitu kita menikah. Tapi dalam pernikahan harus ada mahar. Aku melihatmu sangat miskin. Sebagai maharnya, aku ingin kamu memelihara babi untukku selama setahun penuh,” pinta si gadis.

“Sepakat. Tapi dengan syarat selama itu aku ingin kamu tidak memakai penutup wajah agar aku dapat melihat wajahmu setiap pagi dan petang,” jawab syaikh.

“Baik,” jawab si gadis.

Akhirnya, syaikh tersebut mulai menggembalakan segerombolan babi dengan tongkat yang biasa ia gunakan untuk berkhutbah.

Ketika murid-muridnya terbangun, mereka mencari guru mereka, namun tidak mendapatinya. Mereka pun bertanya kepada si pastur, dan ia menceritakan semuanya. Mendengar jawaban pastur tersebut, diantara mereka ada yang pingsan, ada yang menangis, ada yang berteriak dan ada yang menyayangkan kejadian tersebut.

“Lantas, dimana ia sekarang?” tanya mereka kepada pastur.

“Ia sedang menggembalakan babi,” jawabnya.

Kemudian mereka pun berjalan menuju tempat syaikh menggembalakan babi-babi tersebut. Mereka  mulai berdialog dengannya dan mengingatkannya akan keutaman Al-Quran, Islam dan Nabi Muhammad SAW.. Mereka membacakan Al-Quran dan hadis kepadanya. Namuan syaikh menjawab:

“Aku lebih tahu daripada kalian tentang apa yang kalian baca. Akan tetapi ini adalah balasan dari Allah SWT.”

Berbagai upaya telah mereka lakukan untuk mengajak kembali sang guru ke dalam pelukan Islam. Namun gagal. Mereka pun meninggalkannya, untuk melanjutkan perjalanan haji ke Tanah Suci.

Sepulang dari menunaikan ibadah haji, mereka melewati tempat itu kembali. Mereka pun menyempatkan diri untuk melihat kondisi guru mereka, dengan harapan ia sudah menyesal dan kembali ke dalam pelukan Islam. Namun ternyata ia masih menggembalakan babi. Mereka pun mengingatkannya kembali dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi SAW.. Kemudian mereka meninggalkannya.

Ketika perjalanan sudah agak jauh, tiba-tiba guru mereka memanggil-manggil dan menyusul mereka. Ia mengucapkan syahadat lagi, sebagai tanda bahwa dirinya telah kembali ke dalam pelukan Islam dan bertobat.

“Aku bertobat kepada Allah. Ini semua karena dosa yang pernah aku lakukan, sehingga Allah memberiku bencana seperti ini sebagai balasan sebagaimana yang kalian lihat,” ungkap syaikh.

Setelah sampai Bagdad, ia lebih rajin beribadah daripada sebelumnya. Ketika mereka sedang belajar dan mengaji kepadanya, tiba-tiba ada seorang wanita mengetuk pintu. Ia ingin bertemu dengan syaikh.

“Katakan kepadanya, si fulanah binti pastur fulan telah datang dan ingin mengikrarkan diri masuk Islam,” kata wanita tersebut.

Lantas ia pun diperkenankan masuk.

“Tuan, saya datang untuk memeluk agama Islam di hadapanmu,” si wanita memulai pembicaraan.

“Apa sebabnya?” tanya syaikh.

“Ketika anda pergi, saya bermimpi bertemu dengan Ali bin Abi Thalib r.a. dan ia berkata: “Tidak ada agama yang benar melainkan agama Muhammad SAW.. Ia mengatakannya sebanyak tiga kali. Kemudian ia berkata: “Allah tidak akan mengujimu dengan salah seorang wali (kekasih) dari wali-wali-Nya.” Inilah saya sekarang datang menemuimu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat,” ungkap si wanita.

Akhirnya syaikh senang dengan hal itu. Ia pun akhirnya menikahi wanita tersebut.

Para muridnya pun penasaran dengan dosa yang pernah dilakukan oleh guru mereka tersebut sehigga Allah mengujinya dengan apa yang telah terjadi. Mereka memberanikan diri untuk menanyakan tentang hal itu kepadanya.

Ia pun bercerita:

“Dulu aku pernah  berjalan di sebuah gang kecil. Kemudian ada seorang lelaki Nasrani yang menyenggolku. Kemudian aku marah dan berkata kepadanya: “Menjauhlah kamu dariku. Semoga laknat Allah atasmu.”

“Kenapa begitu?” tanya lelaki Nasrani itu.

“Karena aku lebih baik darimu,” jawabku.

“Bagaimana engkau tahu dirimu lebih baik dariku. Apakah kamu tahu rahasia di sisi Allah Ta’ala sehingga kamu berkata demikian?” jawab lelaki tersebut.

Kemudian suatu hati aku mendengar bahwa  lelaki Nasrani tersebut masuk Islam, taat menjalankan agama dan rajin beribadah. Karena itulah Allah SWT. membalasku dengan apa yang telah kalian lihat.” (disarikan dari kitab Bahr al-Dumū’ karya Ibn al-Jauzi)

Di dalam Islam tidak boleh melaknat seseorang, meskipun ia kafir, karena bisa jadi ia masuk Islam sebelum ajal menjemputnya. Kecuali orang kafir yang sudah disebut oleh Al-Quran, seperti Abu Lahab, atau melaknat secara umum orang-orang kafir tanpa menunjuk nama orang tertentu. (ruwaqazhar.com)

 

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share