4 Peristiwa Penting Perseteruan Al-Azhar dengan Liberal Mesir

azharSebagai salah satu instansi pendidikan Islam tertua di dunia, Al-Azhar sudah tidak perlu membuktikan apa pun kepada dunia tentang dedikasinya kepada agama Islam dalam menyebarkan ajarannya yang moderat. Produk intelektualitasnya sudah begitu tampak terang dan dapat dinikmati oleh masyarakat muslim di seluruh dunia.

Sampai detik ini, barang kali tidak berlebihan jika Al-Azhar dikatakan sebagai instansi pendidikan Islam moderat terdepan, mengingat materi-materi yang diajarkan di Al-Azhar memang membuktikan akan hal itu. Komitmen Al-Azhar untuk senantiasa menjaga warisan Islam (turats) dengan mengajarkan Akidah Ahlussunnah Waljamaah (baca: Asyari-Matudiri), fikih empat mazhab (bahkan sering ditambahkan empat mazhab lainnya, termasuk zahiri dan zaidi), dan tasawuf sunni, merupakan bukti konkrit dedikasi Al-Azhar dalam menyebarkan moderasi Islam.

Sikap Al-Azhar sangat tegas terkait permasalahan-permasalahan yang bersifat tetap (tsawabit), dan memberikan toleransi yang cukup besar di dalam hal-hal yang sering mengalami perubahan (mutaghayyirat). Ketegasan ini, dibuktikan oleh Al-Azhar beberapa kali saat sejumlah pihak sudah dipandang telah melampaui batas dalam menebar wacana keislaman yang justru mencederai sakralitas simbol-simbol Islam dan ajarannya.

Sejumlah tokoh liberal Mesir pernah terlibat perseteruan sangat sengit dengan Al-Azhar terkait beberapa wacana keislaman yang dipandang telah menyimpang. Berikut 4 peristiwa penting keagamaan yang melibatkan Al-Azhar dengan kalangan liberalis, yang menunjukkan betapa tegas Al-Azhar dalam menjaga agama Islam.

1- Islam Buhairi

Islam Buhairi baru-baru ini membawakan program keagamaan di salah satu stasiun televisi Mesir “al-Qahirah wa al-Nas”. Di dalam acaranya tersebut ia menolak sejumlah sumber agama Islam, seperti hadis yang tidak masuk akal dan pendapat-pendapat para imam dalam mazhab-mazhab Islam. Melihat wacana ini sangat berbahaya, karena dianggap merendahkan dan melecehkan simbol-simbol Islam, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayeb melayangkan tuntutan kepada pemerintah agar menutup program Islam Buhairi dan melarangnya tampil di televisi.

2- Sayyid al-Qumni

Sebelum Islam Buhairi, nama Sayyid al-Qumni juga pernah ribut dengan Al-Azhar. Pasalnya, al-Qumni menulis sebuah buku dengan judul “Allah”. Bukan judulnya yang memicu keributan itu, namun isinya. Di dalam buku ini, al-Qumni menyatakan bahwa Al-Quran mengandung sejumlah fakta, seperti peperangan dan semisalnya, namun ia juga mengandung sejumlah kisah-kisah dongeng yang tidak nyata. Ia juga menyatakan bahwa Al-Quran merupakan teks sejarah yang boleh dikritik. Dan di bagian tulisannya yang lain, ia menyerukan kebebasan tidak mempercayai tuhan (atheis) di Mesir.

Pendapat-pendapat menyimpang tersebut membuat Grand Shaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayeb di awal-awal beliau menjabat sebagai Grand Shaikh, melayangkan tuntutan kepada pengadilan agar menangani kasus penyimpangan pemikiran al-Qumni ini.

Di dalam tuntutannya itu, Al-Azhar meminta agar al-Qumni tidak diberikan penghargaan apa pun, menyusul saat itu ia diberi penghargaan dari Kementerian Kebudayaan. Al-Azhar juga meminta agar karya-karya tulis al-Qumni dilarang beredar di pasar. Pasca tuntutan dari Al-Azhar ini, al-Qumni mendapatkan tekanan yang luar biasa sehingga ia pun jarang terlihat lagi di media.

3- Farj Faudah

Di awal tahun 80-an hingga awal 90-an, terjadi perseteruan yang pelik antara Al-Azhar dengan salah satu tokoh liberal Mesir, Farj Faudah. Ia menolak kewajiban berhijab dan hukum apa pun yang mengatas-namakan agama. Penyimpangan pemikirannya ini mendapatkan respon yang cukup keras dari Al-Azhar, dimana Al-Azhar mengeluarkan fatwa kafir bagi orang yang menolak kewajiban-kewajiban syariat Islam. Tokoh yang paling lantang bersuara saat itu adalah Dr. Mahmud Mazru’ah. Fatwa serupa pun juga dikeluarkan oleh kelompok-kelompok Islam lainnya.

Puncaknya, Fajr Faudah pun akhirnya tewas dibunuh oleh tiga pemuda dari kalangan Islam garis keras pada tahun 1992 M..

4- Nasr Hamid Abu Zaid

Di pertengahan tahun 90-an, Al-Azhar melayangkan tuntutan terhadap Nasr Hamid Abu Zaid seorang dosen di fakultas sastra Arab di Cairo University, karena dianggap telah melecehkan agama Islam. Dalam beberapa tulisannya, ia mengatakan bahwa Al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), bukan merupakan wahyu dari Allah Ta’ala. Ia juga mengingkari bahwa Allah Ta’ala yang memberi nama kitab suci-Nya dengan nama “Al-Quran”. Islam sendiri menurutnya, tidak memiliki batasan pemahaman yang jelas sejak era Nabi SAW. hingga sekarang ini. Ia juga mengatakan bahwa Islam adalah agamanya orang Arab, bukan untuk seluruh penduduk di muka bumi. Tidak hanya itu, ia menyatakan bahwa ilmu-ilmu Al-Quran dan penerapan syariat Islam adalah produk keterbelakangan, serta penyimpangan-penyimpangan pemikiran lainnya.

Karena itulah, Al-Azhar mengafirkannya, sehingga ia pun akhirnya memilih untuk keluar dari Mesir menuju Belanda.

Sumber: mosleminfo.com

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share