Memaknai Kunjungan Grand Shaikh Al-Azhar ke Indonesia

grand shaikh1

Memaknai Kunjungan Grand Shaikh Al-Azhar ke Indonesia

Pasca meletusnya “Revolusi Rakyat” di Mesir yang berhasil menggulingkan rezim Husni Mubarak pada tahun 2011 kran kebebasan terbuka begitu lebar. Semua aliran ideologi di Mesir ingin menegaskan dominasinya atas ideologi yang lain. Potret singkatnya bisa kita lihat bagaimana sengitnya perang ideologi dalam pembahasan amandemen pasal 2 undang-undang. Kalangan Islamiyyin (baca: Salafi Wahabi dan Ikhwanul Muslimin) menginginkan perubahan redaksi yang lebih tegas pada pasal tersebut dalam penerapan syariat Islam, sedangkan kalangan Sekuler Liberal dan Kristen Koptik ingin menghapus sama sekali redaksi prinsip Islam sebagai sumber undang-undang. Sedangkan Al-Azhar sendiri meminta agar redaksi pada pasal tersebut dipertahankan seperti sedia kala.

Situasi yang bebas ini ternyata tidak selalu memberikan dampak positif, karena Al-Azhar kena getah negatifnya. Kalangan islamiyyin yang sukses menguasai dua sektor vital eksekutif dan legislatif belum merasa cukup, hingga akhirnya bermaksud menguasai yudikatif dan menduduki Al-Azhar. Khusus terkait Al-Azhar, meski bukan merupakan lembaga politik, namun para politisi begitu ‘bersyahwat’ untuk menguasainya demi kepentingan politik mereka, mengingat posisi strategisnya di kalangan rakyat Mesir pada khususnya, dan seluruh umat Islam pada umumnya.

Sejak itulah meletus perang ideologis yang cukup panas, sehingga Al-Azhar merasa perlu untuk meneguhkan identitasnya yang moderat di tengah serangan bertubi-tubi yang menghampirinya, baik dari kalangan radikalis maupun liberalis. Dan dalam perkembangannya, utamanya pasca rezim Muhammad Mursi yang diusung oleh kalangan islamiyyin tumbang pada tahun 2013, ‘musuh’ Al-Azhar bertambah satu lagi, Syiah. Melalui media yang dimiliki Al-Azhar, baik cetak maupun elektronik, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayib memimpin langsung kampanye Islam Aswaja untuk menghadapi tiga kekuatan besar yang berkembang di Mesir, Salafi-Wahabi (plus IM), Sekuler Liberal dan Syiah.

Sudah sekitar sepuluh tahun yang lalu Indonesia mendapatkan kunjungan dari Grand Shaikh Al-Azhar yang kala itu dijabat oleh Prof. Dr. Muhammad Sayyid Thantawi. Kini, Indonesia mendapatkan kehormatan serupa dengan Grand Shaikh yang baru, Prof. Dr. Ahmad Thayib. Kunjungan kali ini tentu saja tidak dapat begitu saja dilepaskan dari konteks misi Al-Azhar saat ini untuk menyebarkan Islam yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin, pemahaman Islam Ahlussunnah Waljamaah (baca: Aswaja). Apalagi, tidak seperti biasanya, kali ini Grand Shaikh tidak mengutus wakilnya untuk memenuhi undangan ke Indonesia, sebagaimana yang biasanya beliau lakukan ketika mendapatkan undangan dari negara-negara Asia Tenggara.

Kunjungan ini tentu saja sangat penting bagi bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis wacana keislaman yang ditengarai semakin derasnya arus pemikiran yang tidak sesuai dengan diskursus Islam Aswaja. Al-Azhar, sebagai kiblat Islam Aswaja sangat diharapkan mampu memberikan pencerahan dan pengaruh besarnya terhadap perkembangan wacana keislaman di Indonesia. Kedatangan Grand Shaikh Al-Azhar ini pun dapat dijadikan daya lecut organisasi Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional (IAAI) cabang Indonesia untuk meneguhkan eksistensinya di tengah persaingan dakwah antar almamater. Karena obrolan ‘warung kopi’ mengenai kiprah IAAI Indonesia yang dipandang kurang greget mulai terdengar sedikit nyaring ke permukaan. Kalangan muda dari alumni Al-Azhar sudah mulai berani angkat bicara, baik demi tujuan kritik konstruktif maupun hanya sekedar ungkapan nyinyir yang kontra produktif.

Diskusi tentang kiprah jebolan Al-Azhar di tanah air juga sudah mulai mengemuka. Sebagian alumni memandang dakwah azhariyyin masih belum cukup memenuhi espektasi masyarakat, jika dilihat dari jumlahnya yang sangat banyak. Publik masih terus menunggu sesuatu yang lebih dari para alumni Al-Azhar. Dan tidak jarang kiprah azhariyyin selalu dibanding-bandingkan dengan jebolan Yaman dan Arab Saudi yang meski secara kuantitas tidak terlalu banyak, namun kehadiran mereka di tengah masyarakat begitu sangat dirasakan. Berbeda dengan para alumni Al-Azhar yang jumlahnya sangat banyak namun masyarakat masih merasa belum merasakan sentuhan dakwah mereka. Problem ini tidak hanya di Indonesia, hal yang sama pernah penulis dengar langsung dari masyarakat Malaysia, yang juga mengatakan belum merasakan dakwah jebolan Al-Azhar di negara mereka.

Sebenarnya kiprah alumni Al-Azhar itu sudah ada di tengah masyarakat. Namun demikian, setidaknya ada dua faktor yang membuat masyarakat tidak merasakan kehadiran mereka. Pertama, alumni Al-Azhar hanya berkiprah di ranah birokrasi. Dan kedua, mereka masuk ke lembaga-lembaga pendidikan sebagai dosen, guru dan sejenisnya, serta tidak banyak yang berkiprah sebagai penceramah/dai. Ini berbeda dengan alumni Yaman dan Arab Saudi misalnya, dimana mereka rajin sekali menggelar pengajian dan tablig akbar yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Bisa jadi hal ini lahir akibat cara pandang yang berbeda antara mereka yang belajar di Mesir dengan mereka yang belajar di Yaman dan Arab Saudi. Sebagian besar mereka yang belajar di Al-Azhar, khususnya generasi 2010 ke bawah, merasa hanya sedang belajar di kampus, sedangkan mereka yang belajar di Yaman dan Arab Saudi merasa sedang belajar di pondok pesantren meski sejatinya mereka duduk di bangku kampus. Perbedaan kedua paradigma ini akan berdampak kepada tingkat loyalitas. Karena loyalitas seorang santri kepada pondoknya akan jauh lebih kuat daripada loyalitas seorang mahasiswa kepada kampusnya.

Lantas, bagaimana dengan para pelajar Indonesia yang masih di Mesir? Dalam konteks masisir, kunjungan ini dapat dimaknai sebagai sebuah pesan bahwa jika saat ini Grand Shaikh yang menyuarakan Manhaj Al-Azhar di Indonesia, maka esok dan seterusnya hal itu adalah tugas duta-duta azhari yang sekarang ini masih menimbah ilmu di bilik-bilik Masjid Al-Azhar dan ruang-ruang kelas Universitas Al-Azhar. Mereka inilah yang kelak diharapkan oleh Al-Azhar dapat mengemban misi dakwah azhari yang moderat sebagaimana digariskan oleh Baginda Rasulullah SAW..

Kabar gembiranya, sejak tahun 2010 ‘virus’ gerakan bersama kembali ke Al-Azhar di kalangan masisir semakin menemukan polanya. Tempat-tempat talaqqi semakin ramai dihadiri oleh masisir. Fenomena ini pun sejalan dengan semangat para pimpinan organisasi yang ada di tengah masisir. Puncaknya pada tahun 2013-2014 PPMI, Presiden Amrizal Batubara mampu memberikan terobosan baru, dengan membuka pintu interaksi langsung bagi masisir dengan Grand Shaikh Al-Azhar dan para masyayekh lainnya. Meski masih kalah secara kuantitas dibandingkan para pelajar Malaysia di tempat talaqqi, namun peningkatan jumlah talaqqers masisir sudah cukup menggembirakan. Dari nuansa kondusif yang sudah terbentuk saat ini, diharapkan ‘virus’ gerakan bersama kembali ke Al-Azhar ini semakin mewabah, sehingga keinginan besar Al-Azhar untuk menyebarkan manhajnya ke seluruh penjuru dunia dapat diemban oleh seluruh alumninya. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. (M. Hidayatulloh)

Be Sociable, Share!

Komentar Anda

Komentar

Share